Loading...

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, March 4, 2009

Cara Memasang Iklan ppcindo


Setiap kali mengunjungi website atau blog di internet kita sering menemukan iklan-iklan yang terpasang pada web atau blog tersebut, baik berupa iklan teks ataupun iklan berupa banner. Dengan memasang iklan pada web atau blog tentu si pemilik web atau blog atau biasa disebut Publisher akan mendapatkan senilai uang dari si pemberi iklan.



Di sini kita akan membahas tentang cara memasang iklan

My Past Lives as a Tibetan Monk.

I was a bit skeptical about past lives until I had this very, vivid dream--which also party triggered my investigation and interest in Buddhism. I found myself dressed in some kind of colorful, flowing robe. The colors being a purplish maroon and the other was a yellowish golden color. The robe seemed to be an eggplant color with the golden yellow as trim. I had no clue at that point in my life that those are the colors of Tibetan Buddhist monks; in fact I didn’t know much of anything about Buddhism in general!!

A man dressed in similar robes accompanied me but his robes were bluer with the golden yellow trim. He was my guide as we walked up this slope of a massive mountaintop. I could tell that we were very high up because the vegetation was mostly tundra with a few scraggly trees. The sky was a breathtaking shade of crystal blue with only a hint of wispy clouds. A slight breeze was playfully tossing the fabric of my billowy robes about. I felt so at peace with my guide and in my surroundings. I can’t remember his face but I had a deep feeling of connection with him. He felt like a long lost friend whom I had known for ages.

As we rounded the summit of this great peak I saw a large Buddha-like statue with a crisp, clear stream of water gushing out of the statue’s mouth. My guide told me to drink the water, so I cupped my hands and drank. And as I swallowed this cool, clean mountain water I realized that I was very thirsty and I remember it was so refreshing and delicious.

Thus, I drank more and more of this elixir. As I drank my guide informed me that the water I was drinking was no ordinary water. He said, “It is special water. Water that will bring you vitality and long-life” and with that he gave me a warm smile. Then, as I gazed transfixed into his peaceful face I was transported out of the dream with a blink just like someone changed the channel on the t.v.

As it turns out my research shows that blue and yellow are the two colors in the Karmapa Dream Flag. “The 16th Gyalwa Karmapa, well known for his visions and prophesies, designed this flag from a vision that came to him in a dream. He called it “Namkhyen Gyaldar (Victorious Flag of Buddha’s Wisdom).” He proclaimed, “Wherever this banner is flown the Dharma will flourish.”[i]

According to that same webpage cited above, the inner meaning of this flag is that the blue represents vision and spiritual insight, which is exactly what my dream was for me. In addition, the yellow represents our experiences in the everyday world and certainly my everyday experiences were weighing heavily upon me when I had this dream. So I see this dream as a wake up call that the spiritual insight of the dream represented by Buddhism would be the path that would help me find peace and reduce my great suffering (I was struggling greatly at the time in my life on what to do. I was lost in a nihilist fog at the time of this dream).

It seems that the Karmapa’s Dream Flag took the form of my guides robe colors and the pure, clean water was to quench my thirst for peace and stability through the Dharma. I personally feel that the dream overall it was a reminder of a past life that I must have lived as a novice Tibetan Buddhist monk.

I've had a second, as vivid dream about what I see as a past life in Tibet. I was on a journey all alone in a mountainous land. I was again wearing maroon robes and was on some quest of sorts to find a hermit monk off in the foothills near a grand, blue, wind-swept lake. Well, imagine my surprise and shock when I watched the movie Kundun and saw the exact same lake from my dream in the movie!! It was Lhamo I' Latso or the "Oracle Lake. It is a sacred (considered the most sacred actually), famous lake known for visions and thus no surprise I guess why I experienced that past memory in a dream.

I had the dream about the lake before I had seen the movie. I think these dreams are partly why I was initially attracted to Tibetan Buddhism when I began studying the Dharma in this life.

It is because of these two dreams, the reality of the life cycle of the four seasons and the physics law that nothing every disappears but simply changes form. For example, sunlight lives on in the form of electricity transformed through solar panels. It lives on in trees, which are later used to create paper to make books. Thus the sun lives on in trees, paper, books, ink, and on and on.


[i] Harderwijk, Rudy. “Tibetan Buddhist Symbols.” A View on Buddhism. Ed. Rudy Harderwijk. 10

October 2006. 8 July 2008. http://buddhism.kalachakranet.org/symbols_tibet_buddhism.htm#

~Peace to all beings~

Tuesday, March 3, 2009

bodoh?



Posted 12-05-2008 at 12:09 PM by azhuramasda
Updated 12-05-2008 at 12:17 PM by azhuramasda

Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tidak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka. Tukang cukur berkata, "Itu Bejo, dia anak paling terbodoh di dunia".

Pengusaha itu kemudian bertanya
"Apa iya?".

Tukang cukur dengan bersemangat "Mari... saya buktikan!"

Lalu, dia memanggil si Bejo, tukang cukur itu merogoh kantongnya dan
mengeluarkan lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu ia memanggil bejo dan berkata, "Bejo, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!".

Bejo pun melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada dua lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil lembaran uang Rp 500.


Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang nilainya paling kecil".


Setelah sang pengusaha sudah selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya

"Bejo, tadi saya sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp 1000 dan Rp 500-an, saya lihat kok yang kamu ambil, uang yang Rp 500, kenapa tidak ambil yang Rp 1000, nilainya kan lebih besar dan dua kali lipat dari yang Rp 500".


Si bejo kemudian melihat dan memandang wajah sang pengusaha, ia agak ragu-ragu untuk mengatakannya.

"Ayo beritahu saya, kenapa kamu ambil yang Rp 500," desak sang pengusaha.


Akhirnya si Bejo pun berkata, "Kalau saya ambil yang Rp 1000, berarti permainannya akan selesai....."



Never judge a book from its cover, The story may be different from what you may think of.

Copied from Kaskus.us

Temukan kebahagiaan dengan memberi



Posted 12-05-2008 at 12:29 PM by azhuramasda
Updated 12-05-2008 at 12:34 PM by azhuramasda

Kisah ini bercerita tentang seorang wanita cantik bergaun mahal yang

mengeluh kepada psikiaternya bahwa dia merasa seluruh hidupnya hampa tak berarti.

Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya," Saya akan menyuruh Mary di sini untuk menceritakan kepada anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin anda mendengarnya."

Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya: "OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa. aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang.

Sejenak aku merasa kasihan melihatnya.

Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan untuk pertama kalinya aku tersenyum.

Sesaat kemudian aku berpikir jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia. Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur. Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi."

Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.


Copied from Kaskus.us

Siapa Wanita Yang Mendidik Anak ini?



Posted 08-05-2008 at 10:20 AM by azhuramasda
Updated 09-05-2008 at 05:20 PM by azhuramasda

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya. "Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu. Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Gak sampe 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja. "Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi. "Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak,... Ibu." Halus budi bahasanya pikir saya. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya. Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela, dan membalas senyumannya. "Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya. Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu. "Kenapa Bang, mau beli kue ya?" tanyanya. "Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya. "Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu. "Abang mau beli semua ?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya. Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu ?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.......

Copied from Kaskus.us