Loading...

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Pedang Kebijaksanaan. Show all posts
Showing posts with label Pedang Kebijaksanaan. Show all posts

Tuesday, January 22, 2013

Dharmaraja Lian Sheng Sheng-yen Lu: Jangan Meremehkan Bhiksu yang Melanggar Sila

Dikutip dari: Karya Dharmaraja Lian Sheng Sheng-yen Lu ke-161 -- Satu Pikiran Teduh

Zaman sekarang, banyak orang melihat sadhaka melanggar sila, sebagian perumahtangga pun mulai mengolok-olok, meremehkan bhiksu, memarahi bhiksu, menyindir dengan pedas, menghina sampai titik paling ekstrim. Bahkan karena sebagian sadhaka melanggar sila, banyak orang kehilangan sradha.

Saat saya baca Sutra di Danau Daun, saya sempat baca Sutra Lautan Samadhi, menemukan bahwa Buddha Sakyamuni  menguraikan pada kita: Jangan! Jangan pernah! Buddha bersabda, "Jika seseorang menerima Sila Buddha, maka memasuki tingkatan Para Buddha. Sedangkan, orang awam biasa, asalkan menerima Sila Buddha, ibarat menyandang mutiara Sila nan terang, berkalungkan perhiasan yang paling berharga, tingkatannya setara dengan 3 suciwan, selayaknya dihormati."

Di dalam Sutra Lautan Samadhi mengatakan, pada masa lampau ada 4 orang bhiksu, mereka melanggar Sila, sehingga merasa sangat malu, tidak dapat berlindung lagi pada Sang Buddha. Tiba-tiba di tengah angkasa terdapat suara yang mengatakan, "Wahai, empat bhiksu yang melanggar sila, jangan meremehkan diri sendiri tak tertolong, jangan begitu, Buddha Sakyamuni walaupun parinirvana, namun, Dharmakaya-Nya memenuhi alam semesta, kalian boleh memasuki stupa, memandang wujud mustika dari Sang Buddha, di tengah alis terdapat bulu putih."

Keempat bhiksu yang melanggar sila pun memasuki stupa, rupang Buddha bagaikan wajah asli, sehingga mereka bertobat atas kesalahan sendiri, ibarat gunung besar yang rubuh.

Keempat bhiksu ini, belakangan mencapai pencerahan sejati, yakni:

Buddha Aksobhya di timur.
Buddha Ratnasambhava di barat. 
Buddha Amitayus di barat.
Buddha Dundubhisvara di utara.

Itu sebabnya, Sang Buddha menamakannya memandang samadhi Buddha dan Lautan Sila Raja Maharatna, bisa membersihkan dosa-dosa pelanggaran sila, mendapatkan kesucian Dharmata.

Mahāvaipulya mahāsamghāta sūtra mengatakan, "Jika para raja dan bangsawan, memukul dan memaki bhiksu yang menaati sila sebagai bhiksu yang melanggar sila, dosanya sama seperti melukai sepuluh miliar Buddha hingga berdarah, jika melihat orang yang menyandang kasaya, tidak peduli ia memegang Sila atau tidak, tetap anggap sebagai Buddha. Memahami ucapan emas Buddha, tidak meremehkan petunjuk muskil-Nya, tetap tenang dari segala tindakan pukul maupun marah."

Artinya adalah: lebih baik mengendalikan perasaan daripada dikendalikan oleh perasaan.

Melihat orang yang kikir, muncul pikiran berdana.
Melihat orang yang melanggar sila, muncul pikiran menaati sila.

Surangama Sutra mengatakan, "Buddha bersabda tentang 4 jenis ramalan (ramalan sebelum membangkitkan Bodhicitta, ramalan pada awal membangkitkan Bodhicitta, ramalan kebuddhaan rahasia, ramalan kebuddhaan nyata). Kasyapa berkata pada Sang Buddha, mulai hari ini, kami di hadapan segenap insan, menganggap sebagai Bhagavan, jika meremehkan, maka akan melukai diri sendiri. Buddha bersabda, Sadhu, manusia tidak seharusnya mengukur insan, hanya Tathagata, mampu mengukurnya. Atas dasar nidana ini, saya menitahkan pada Sravaka, serta para Bodhisattva agar menganggap insan sebagai Buddha."

Avatamsaka Sutra Bab Menjalankan Ikrar, "Ini juga pikiran yang digunakan untuk menghancurkan sejuta rintangan."

Ada sebuah gatha berbunyi:
Para Buddha di tengah padma layu. Emas murni di dalam kotoran.
Perhiasan tersimpan di dalam tanah. Tunas tumbuh di dalam buah.
Jubah usang tertanam di dalam akar rusak. Di dalam lilitan terdapat rupang emas murni.
Wanita buruk rupa yang miskin dan hina. Bereinkarnasi menjadi raja Cakravartin.
Di dalam lumpur hitam. Terdapat rupang mustika indah.
Loba-dosa-moha insan. Khayalan dan kerisauan.
Di dalam kondisi duniawi. Terdapat Tathagatagarbha.
Ke bawah hingga Neraka Avici. Terdapat badan Tathagata.
Dharma kesucian dari Tathata. Dinamakan tubuh Tathagata.

Teringat ketika saya muda, sangat sakit hati dan membenci sadhaka yang melanggar Sila, ada sadhaka yang melanggar Sila Perzinahan, ada sadhaka yang memperebutkan properti vihara, ada sadhaka yang merampas umat, ada sadhaka yang sangat egois, ada sadhaka yang mendambakan popularitas dan kedudukan, ada sadhaka yang mendambakan kekayaan dan keuntungan, ada sadhaka pembohong besar, dan lain sebagainya.

Saya tidak ada komentar positif untuk orang-orang yang melanggar Sila tersebut.

Namun, sekarang tidak lagi.

Buddha bersabda, "Walaupun kini berada di neraka setan, berarti belum membangkitkan Bodhicitta, Buddha meramalkan kelak pasti bercita-cita besar, bertemu sahabat sejati dan berbudi, menjalankan perilaku Bodhisattva, bahkan mencapai pencerahan sejati, sehingga tidak boleh diremehkan."

Ada sebuah perumpamaan yang baik --
Saat saya berada di Danau Daun, bersamadhi memasuki Goa Dayin (alam baka besar), bertemu Dewa Gunung Dayin, di dalam Goa Gunung Dayin, semua adalah murid Tantra, hanya karena bhavana telah menyimpang, atau ilmu sesat, sehingga menjadi wujud makhluk amanusia.

Saya memberikan abhiseka sarana dan penerimaan Sila ulang, kembali naik Dharmasana menjelaskan Dharma Tantra. Murid Tantra yang melanggar Sila ini, kelak pasti bercita-cita besar, mengolah jalan pembebasan, mengolah jalan kebuddhaan, terakhir mencapai hati Tathagatagarbha, dan akhirnya mencapai pencerahan sejati.

Murid Tantra yang melanggar Sila demikian, di mana pun ia berjodoh, akan menyaksikan Tathagata, mana boleh meremehkan mereka!

Aniruddha dulu menjadi pencuri, kelak mencapai kebuddhaan, bernama Samantaprabhasa, itulah contohnya.

Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu -- Perselisihan Ada Di Mana-Mana

Dikutip dari Buku Dharmaraja Lian Sheng Sheng-yen Lu ke-105 -- Salju yang Berterbangan di Rainbow Villa

Dulu, guru saya Taois Qingzhen berkata pada saya, "Di mana ada manusia, di situ ada perselisihan, walaupun Anda kabur ke tempat yang paling terpencil di bumi, di pegunungan, di lautan, tetap akan ada perselisihan, lantas, bagaimana Anda nantinya?"

Saya menjawab, "Anggap enteng, memandang dengan tawar, berpandangan terbuka."

Guru berkata, "Inilah memahami, meletakkan, dan bebas leluasa dari samadhi."

Hari ini, saya berkata pada murid-murid saya, "Jangan mengira memeluk Agama Buddha, maka bebas dari perselisihan, jangan kira bersarana pada Zhenfo Zong, maka bebas dari perselisihan. Perselisihan ada di dalam organisasi mana pun, baik desa kecil maupun kota kecil mana pun, bahkan Seattle yang terpencil di bumi sekalipun."

Maksud saya adalah, perselisihan ada di mana-mana, tidak seorang pun dapat menghindari gangguan dari perselisihan, Anda dari satu kantor, loncat ke kantor lain, Anda bisa menghindari untuk sementara, tidak dapat menghindari untuk selamanya. (bagian/departemen di pekerjaan lain bahkan lebih banyak)

Buddha Sakyamuni mengajari kita, jangan berdusta, jangan mengadu domba, jangan bermulut jahat, jangan bicara cabul, setiap orang saling menghormati dan menyayangi, maka tidak ada kondisi saling membicarakan benar dan salah lagi, inilah cara mempertahankan kesucian ucapan. Sikap yang layak dimiliki seorang sadhaka.

Namun, sifat buruk umat manusia adalah, "Di antara 10 mulut, 9 adalah bokong." Dengan kata lain, di antara 10 mulut, ada 9 yang bau, menghasut adalah sifat pembawaan yang paling disukai umat manusia, bahkan membesar-besarkan dan menyebarluaskan, serta ditambahi bumbu-bumbu.

Di sini, saya menasihati para murid Zhenfo Zong, jangan hiraukan perselisihan. Kurangi bicara, perbanyak japa Buddha. Kurangi mengobrol, perbanyak bersadhana. Dengan demikian, jiwa dan raga juga lebih leluasa, indera pendengaran juga lebih bersih, maka perselihan pun akan berkurang di sekitar Anda.

Dunia manusia memang penuh dengan perselisihan, namun tergantung apakah Anda dapat mengatasi atau tidak? Meletakkan atau tidak?

Thursday, January 10, 2013

Nasehat Vajra Acarya Shi Lian-yin


Oleh : Sadhaka Zhen-fo

Ringkasan : 

Hanya mendengar ucapan Kakek Guru : "Aku sedang membantumu menyaring siswa..." 

Orang yang memandang Zhenfo Zong sebagai aliran sesat, sesungguhnya batin mereka sendirilah yang telah terlebih dahulu menyimpang , sehingga memandang yang lain semua adalah sesat.

Coba Anda lihat sadhaka agung di masa lampau, siapa yang gemar menjelek-jelekkan yang lain ? Seorang sadhaka agung tidak pernah memfitnah, mereka berkonsentrasi untuk membina diri masing-masing.

Mahaguru kita Dharmaraja Lian-sheng, Sheng-yen Lu, adalah orang yang sangat tulus , bicaranya juga sangat terus terang, tidak pernah membohongi siswa. Seperti Sadhana Tantra yang ditransmisikan oleh Mahaguru, asalkan Anda bertekad menekuninya dengan konsisten dan sungguh-sungguh, maka Anda pasti akan memperoleh realisasi.

Satu bulan lagi, akan genap 21 tahun saya telah melakukan pelayanan di Vihara Vajragarbha Rainbow.  Saya adalah orang China Daratan , orang Cina Daratan sangat realistis ; Apalagi saya adalah orang bagian Timur Laut yang pembawaannya terus terang, saya bisa menetap demikian lama , ini membuktikan bahwa Mahaguru sungguh merupakan Guru yang baik, sebab saya yang selama ini telah belajar Buddhisme di samping Mahaguru , sangat jelas dan memahami Beliau. . .

Apakah Dharma Tantra Zhen-fo ada kesalahannya ? untuk hal ini tidak pernah ada yang menyerang, apalagi banyak orang yang telah menekuninya dan memperoleh respon spiritual dan yukta.

***       ***       ***       ***

Sebuah dataran yang telah didera hujan angin, ia akan nampak lebih segar dan damai. Akhir-akhir ini , langkah Zhen-fo Zong justru tidak menjadi semakin kacau dikarenakan terpaan fitnah dari luar, justru keyakinan para siswa terhadap Mulacarya semakin kokoh, antar saudara Sedharma juga semakin bersatu. Sungguh ! Terima kasih pada semua adhistana dalam bentuk perlawanan itu !

Meskipun mengatakan hal tersebut, Vajra Acarya Shi Lian-yin dengan tulus mengungkapkan : "Hanya saja, karma buruk memfitnah Buddha sangat berat ! Kemunculan Bumi Dharmapala Satya-buddha bukanlah bertujuan untuk saling bertikai dengan pihak lawan, tujuan terpenting adalah untuk memberikan pengajaran kepada pihak lawan, ini merupakan penerapan maitri-karuna Buddha Bodhisattva. Mengharap supaya mereka tidak terus melakukan hal semacam itu, terlampau banyak berbuat karma buruk dan menghancurkan nyawa kebijaksanaan diri sendiri."

Vajra Acarya Shi Lian-ning yang barusan menjabat sebagai kepala bagian bendahara True Buddha Foundation yang ke 4 ini, berasal dari Harbin,  dulu beliau adalah seorang wakil pimpinan PACIFIC DEVELOPMENT COMPANY LIMITED dari Cina yang ditugaskan untuk menetap di Guam. Pada 1991 beliau bersarana pada Zhen-fo Zong, kemudian tahun berikutnya beliau menerima upasampada dari Dharmaraja Lian-sheng, menjadi seorang bhiksu pertama yang menerima sertifikat dari Zhen-fo Zong, dan menetap di Vihara Vajragarbha Rainbow di Seattle ( Dulunya adalah Rainbow Villa ). Selama bertahun-tahun ini, di Vihara Vajragarbha Rainbow, Acarya meneladani semangat kerja keras dalam bhavana yang dipraktekkan oleh Guru Milarepa, beliau bangun pagi setiap jam 5:30 dan tidur tiap malam jam 10:30. Seharian penuh digunakan untuk menekuni Sadhana Tantra Zhen-fo, dari Guru-yoga sampai enam kali pelatihan pembangkitan kundalini, Badrakumba Pranayama, anasrava dan lain sebagainya , sampai saat ini mampu menahan nafas selama 3 menit ; Kemudian satu hal lagi yang perlu diketahui, sudah lama beliau telah menyelesaikan seribu kali Api Homa Acalanatha Vidyaraja.

Mendengar ada orang yang bermaksud jahat memfitnah Zhenfo Zong, memfitnah Mahaguru Buddha, Acarya Shi Lian-yin angkat suara : "Apakah pilihan dan keputusan saya lebih buruk daripada orang-orang tersebut ? Saya adalah seorang yang sangat mempunyai pandangan."  , "Satu bulan lagi, genap sudah 21 tahun saya menetap di Vihara Vajragarbha Rainbow, saya adalah orang China mainland, orang China Mainland sangat realistis, apalagi saya adalah orang bagian Timur Laut yang bersifat terus terang, saya bisa memberikan pelayanan demikian lama, ini membuktikan bahwa Mahaguru sungguh merupakan Guru yang baik. Dharmaraja Lian-sheng , Sheng-yen Lu adalah Guru yang sangat baik ! Kita semua sangat memiliki pandangan yang baik dan memiliki Prajna, sedangkan mereka yang meninggalkan Mahaguru adalah orang yang tidak memiliki pandangan baik."

Sungguh, Acarya Shi Lianyin merupakan salah seorang Dharmapala yang telah membabarkan Dharma demikian lama, telah melihat banyak hal dan yang mengenal paling dalam , serta paling memiliki kepantasan untuk bicara.

"Orang-orang yang memandang Zhen-fo Zong sebagai aliran sesat, sesungguhnya batin mereka sendirilah yang terlebih dahulu telah ada penyimpangan, barulah dia melihat orang lain sebagai sesat." Acarya Lian-yin memberikan contoh, Buddhisme mengajarkan : "Maha-maitri pada yang tidak berafinitas sekalipun. Maha-karuna menolong para insan seperti menjaga diri sendiri." Mahaguru juga memberikan tuntunan tanpa membeda-bedakan, dikarenakan para insan mempunyai Sifat Kebuddhaan, maka sekalipun pada seorang narapidana dan wanita tunasusila, Mahaguru tetap menuntun mereka.  Semua ini hanyalah sebuah perubahan nidana dalam ruang dan waktu. Acarya berpendapat : "Sebagian kecil orang yang keluar dari Zhen-fo Zong dan kemudian balik menyerang, ini membuktikan bahwa di dalam sekte mereka ingin memperoleh sesuatu namun tidak berhasil memperolehnya, sehingga timbullah kebencian mereka." , " Saya lihat beberapa orang tersebut sungguh patut dikasihani, sebab seorang sadhaka sejati seharusnya tiada mengejar hal-hal fana tersebut, hanya berkonsentrasi pada bhavana diri, untuk apa masih meributkan apa yang bisa dan tidak bisa dikuasainya. Coba Anda lihat sadhaka agung di masa lampau, mana yang gemar menjelek-jelekkan orang lain ? Sadhaka Agung tidak pernah memfitnah orang lain, mereka hanya berkonsentrasi pada bhavana masing-masing, atau bahkan justru mereka sendiri yang menerima fitnahan orang." , "Buat apa oknum-oknum itu demikian ribut ? Sebab itu semua sama sekali tidak mempengaruhi Mahaguru, namun dikarenakan hati Bodhisattva maitri-karuna, tidak tega melihat mereka terus berbuat karma buruk menambah banyak penderitaan tumimbal lahir, maka masih berharap untuk menuntun mereka."

Menurut pengamatan mendalam dari Acarya Shi Lianyin selama bertahun - tahun ini, sungguh merupakan sebuah berkah karunia yang sangat agung sehingga dalam kehidupan saat ini dapat berjumpa dengan Mahaguru, ini juga merupakan berkah karunia yang hendaknya dihargai dengan sebaik-baiknya. Acarya memberitahukan pada semua Saudara/i Sedharma : "Mahaguru kita Dharmaraja Lian-sheng, Sheng-yen Lu, adalah orang yang sangat jujur apa adanya, ucapan beliau jujur, sama sekali tidak pernah menipu siswa. Seperti sadhana Tantra yang ditransmisikan oleh Mahaguru, asalkan Anda bertekad menekuninya dengan konsisten, maka pasti Anda memperoleh realisasi, dengan demikian membuktikan kesejatian bimbingan dan ajaran Mahaguru. Oleh karena itu asalkan Anda menekuni Sadhana Tantra Zhenfo dengan dibarengi ketaatan pada sila, maka akan timbul respon spiritual yang sangat agung, pasti akan berhasil. Saya sendiri merupakan saksi yang masih hidup." , "Kembali mengamati oknum-oknum yang memfitnah Zhenfo Zong, mereka sama sekali tidak menekuni Sadhana Tantra Zhenfo , bahkan ada yang menyebut dirinya sendiri telah mencapai pencerahan, tapi kebenciannya sangat pekat, sungguh beda jauh sekali."

Acarya Shi Lianyin melanjutkan : "Hati Mahaguru sangat lembut, tidak peduli siswa memohon apa, Beliau selalu berusaha memenuhinya.  Mahaguru juga merupakan seorang yang memiliki Dharmabala yang sangat agung, namun Beliau tidak pernah mempertunjukkan diri sendiri. Beberapa tahun ini Mahaguru banyak mentransmisikan metode - metode berharga yang disesuaikan dengan akar pembawaan para insan demi memberikan manfaat pada insan luas, namun semua pujana bagi transmisi Sadhana dan  abhiseka adalah sukarela." , "Di dunia ini, dimana lagi Anda bisa berjumpa dengan seorang Guru yang demikian maitri-karuna, penuh kesejatian dan tanpa ego membaktikan diri bagi para insan ?" Acarya berharap supaya semua mau bertanya sejenak pada diri masing-masing, "Oleh karena itu, jangan sampai telah memperoleh ini semua dengan mudah namun masih saja berbuat karma buruk,"

Meskipun Acarya Shi Lian-yin dihormati sebagai seorang siswa senior yang terhormat di Zhen-fo Zong, namun beliau senantiasa ingat ajaran bahwa : "Satu hari menjadi Guru, maka seumur hidup siswa hendaknya memperlakukan beliau sebagai bapa kebijaksanaan diri sendiri." senantiasa menjaga perilaku dan sikap , mentaati sila dan aturan, serta tidak mau sembarangan mengacuhkan pengendalian diri.

Mengenai fitnahan dari luar mengenai sikap Gurudara terhadap Mahaguru, Acarya mengatakan : "Gurudara sangat mendukung Mahaguru, bahkan dalam banyak Dharmadesana Mahaguru meneguhkan bahwa seumur hidup Gurudara merupakan orang yang paling berkemampuan dalam melayani Mahaguru. Jangan terlampau menghiraukan gosip di luaran, lihatlah kenyataan sampai saat ini,  Gurudara masih terus teguh menyertai Mahaguru, ini sudah merupakan bukti bahwa Mahaguru merupakan seorang Guru yang paling pantas untuk didukung."

Mengenai berbagai macam fitnahan dari luar, Acarya memberikan sebuah contoh mengenai kenapa Kakek Guru mengatakan hal yang sebaliknya dibelakang Mahaguru, "Saat itu ada umat yang pergi pada Kakek Guru, dan bertanya kepada Kakek Guru , apakah Mahaguru adalah Buddha ? Kemudian Kakek Guru menjawab : "Sheng-yen Lu Buddha apa ? Buddha palsu." Mendengar ini, beberapa siswa langsung luntur keyakinannya. Kemudian Mahaguru bertanya kepada Kakek Guru kenapa dibelakang berkata seperti itu, Kakek Guru hanya mengatakan : "Aku sedang membantumu dalam menyaring siswa !" Acarya juga mengingatkan semua Saudara/i Sedharma : "Saat Mahaguru menyepi selama 3 tahun merealisasi Kebuddhaan, siapakah yang melayani disamping Mahaguru ? Siapa diantara kita para siswa yang ada disamping Mahaguru untuk mendukung Mahaguru dalam merealisasi Kebuddhaan ? Tidak ada, hanya ada Gurudara. "," Mahaguru adalah Guru, sedangkan Gurudara adalah Ibu Guru, Beliau semuanya adalah senior kita, dan yang junior sama sekali tidak berhak untuk mengkritik. Ini barulah siswa yang baik."

Ada sebuah pepatah " Saat Anda hanya ingin menjelek-jelekkan seseorang, tidak perlu mencari sebuah dalih yang tepat." , diantara ombak fitnahan pada Zhenfo Zong, para pemfitnah hanya mengulang-ulang seputar masalah wanita, prediksi yang tidak tepat dan menduplikasi "Kitab Perkumpulan Muasal Lima Pelita."

Acarya Shi Lian-yin menjelaskan : "Oleh karena itulah, itu menandakan batin yang mendiskriminasi. Saat batin seseorang dalam kondisi tidak benar, maka ia akan melihat segala sesuatu dengan tidak benar,  saat batinnya penuh hal-hal amoral, maka ia akan melihat segala sesuatu dengan pandangan amoral. Jika batin dalam kondisi benar, sama sekali tidak ada masalah apapun. Mata mereka hanya melihat wanita, padahal sesungguhnya disamping Mahaguru juga banyak umat pria yang senantiasa menyertai. Guru Leluhur Tantra, Padmasambhava dan Milarepa, dulu juga banyak disertai oleh umat wanita, kenapa hanya mempermasalahkan Mahaguru. Apalagi permasalahan beberapa siswa wanita itu hanya seputar kedengkian dan perebutan hal yang tidak berguna. Sesungguhnya bagi para siswa wanita yang benar-benar meneladani Mahaguru, Mahaguru telah menggunakan cara yang sangat terang dalam menuntun mereka menapaki jalan bhavana, banyak orang yang saat ini sangat baik dalam bhavananya, hal ini terlihat oleh kita."

Selain itu, Mahaguru menulis "Kitab Perkumpulan Muasal Lima Pelita." termasuk dalam buku mengenai paramarthasatya, sesungguhnya juga merupakan sebuah upaya kausalya, demi menuntun para insan melebur dalam Buddha-jnana.  Acarya Shi Lianyin mengharap supaya para pemfitnah memperluas pandangannya,jangan hanya bisa mengada-ada. Sesungguhnya hal yang patut memperoleh perhatian adalah : Apakah Sadhana Tantra Zhenfo terdapat hal yang keliru ? Selama ini tidak ada orang yang menyerang hal ini, apalagi yang terpenting adalah banyak orang menekuni sadhana ini dan memperoleh kontak spiritual, dan memperoleh yukta. "Mohon tanya, Guru mana yang berani menjamin asalkan sehari bersadhana sekali pasti dapat terlahir di negeri Buddha ? Atau dengan menjapa Mantra Hati Guru 8 juta kali, maupun Mantra Mahamayuri Vidyarajni 600 ribu kali, dijamin terlahir di Negeri Buddha ? Hanya di Zhenfo Zong !"

Acarya Shi Lianyin menyatakan, yang paling utama dalam bhavana adalah merealisasi pembebasan final, kemudian kembali untuk menuntun insan, mengenai metode-metode lainnya, termasuk iddhi (kekuatan spiritual), semua itu hanyalah upaya kausalya sesaat. Saat Sakyamuni Buddha menetap di dunia, di dunia juga banyak terjadi bencana, namun di dalam sutra juga tidak ada prediksi tersebut, sebab semua itu bukanlah hal yang final, apa yang sepatutnya terjadi di dunia fana, pasti akan terjadi, ini merupakan karma bersama. Oleh karena itu hal-hal semacam itu tidak bisa digunakan untuk memutuskan apakah Mahaguru adalah Buddha sejati atau Buddha palsu. Segalanya hanya sebuah upaya kausalya, tidak ada hubungannya dengan mencapai atau tidak mencapai Kebuddhaan. Meskipun ada kalanya Mahaguru akan memberikan pernyataan, namun tujuan utamanya adalah memberikan keyakinan lebih banyak pada para insan, hanya untuk menambah faktor pendukung bhavana.

Mahaguru Dharmaraja Lian-sheng pernah mengatakan : Pujana terbesar adalah ketekunan bhavana.
Acarya Shi Lian-yin mengharap supaya saudara/i Sedharma Satyabuddha tidak terpengaruh gangguan tersebut, pandanglah hal tersebut sebagai ujian, terus berbhavana dengan sepenuh hati, maka kita semua pasti dapat mencapai realisasi.Terhadap para pemfitnah, Acarya mengharap supaya mereka juga dapat menghargai nyawa kebijaksanaan diri sendiri, jangan setiap hari batin terus demikian terombang ambing tak terkendali. Kita semua memiliki afinitas dengan Buddha, maka konsentrasilah untuk menghayati sutra Buddha, Dharma, dan menginsafi apakah tujuan sebenarnya diri sendiri terlahir di dunia ini ? yang terutama adalah melatih diri sendiri dengan sebaik-baiknya, jangan menghamburkan masa kehidupan yang demikian berharga, dan jangan menyia-nyiakan afinitas dengan Mahaguru.

Pada akhir 2011, Mahaguru telah selesai dengan sempurna dalam mengulas Sutra Altar Patriak ke 6, tiap aksara di dalamnya adalah Prajna, tiap kalimat di dalamnya sangat mendalam menuntun insan untuk berkontemplasi.  Acarya Shi Lianyin mengambil contoh ucapan Patriak ke Enam : "Tidak berpikir bajik , tidak berpikir jahat." ini bermakna wajah sejati kita, semoga semua tekun dalam bhavana, masing-masing tekun melakukan perenungan Dharma. Disini, penulis juga ingin berbagi satu kalimat kepada para pembaca yang berjodoh. Suatu ketika Patriak ke 6 Huineng berjumpa dengan Patriak ke 5 Hongren dan berkata : "Batin siswa senantiasa melahirkan Prajna.". Maknanya adalah para insan merupakan Guru ku, termasuk pepohonan, bunga, rumput dan lain sebagainya, segala kondiri yang bersentuhan dengan enam indera, berjumpa apapun dimanapun, semua itu adalah Guru, dengan demikian barulah terbuka Prajna di hati. Namun bagaimana dengan insan fana ? saat enam indera bersentuhan dengan segala hal diluar,  hanya menghasilkan kerisauan, terjerumus dalam keserakahan, kecintaan dan timbul kerisauan ; Jika tidak sesuai dengan keinginan sendiri, maka timbul kebencian, dari kebencian timbul kerisauan. Disinilah letak perbedaan antara awam dengan suciwan.

Friday, December 28, 2012

Pemfitnah Yang Bersarana

Source : Buku Buddha Hidup Lian-sheng Lu Sheng-yan 60

Dalam artikel singkat ini, menampilkan dua pucuk surat !

Yang saya hormati Acarya Lu :

Terlebih dahulu siswa memperkenalkan diri kepada Acarya, nama saya Yang can-hong, laki-laki, lahir pada tahun 37 bulan 8 lunar, berpembawaan tenang dan mandiri.

Telah bersarana pada aliran eksoterik pada bulan 10 tahun 73 Min-guo, kemudian pada bulan 1 tahun 74 berguru pada Upasaka Geng-yun untuk belajar Zen. Saat mendalami eksoterik, telah membaca ratusan buku Agama Buddha dari yang dangkal sampai mendalam, seperti samjna, upadana, samsrita, samdarsana, adhigama dan pramana,  namun semua sebatas menggunakan nama rupa  (istilah-istilah) dalam Buddhisme sehingga terasa membingungkan dan bertele-tele, sampai saat ini masih terasa hampa.

Apa itu bhavana ? Bagaimanakah cara melakukan bhavana ? ini semua belakangan telah terjawab melalui petunjuk Dharma dari guru saat itu, sehingga diri sendiri memiliki arah , juga memadukannya dengan pandangan benar madhyamika.  Namun sungguh disesalkan meskipun telah menekuni bhavana selama setengah tahun , merasa batin dan prana belum dapat selaras, sukar untuk mengendalikan batin dan sukar memperoleh samadhi, saya menjadi semakin kurus, dan merasa sangat takut melenceng dalam meditasi memasuki kondisi seperti kayu kering.

Meskipun Zen dan Tantra sama - sama unggul, semuanya merupakan Satya-dharma tertinggi, namun menurut saya hanya menekuni Zen akan kekurangan adhistana Buddha, hanya bertekun dalam usaha pencerahan, samadhi dan ketenangan. Tidak melekati atribut, tidak mengulas mengenai prana dan nadi. Memegang penekunan metode asamskrta citta-pariksa.  Ini semua tidak akan mampu direalisasi oleh insan yang berakar rendah, sedangkan Dharma Agung yang diajarkan Acarya sungguh menakjubkan, diajarkan sesuai dengan akar pembawaan masing-masing, menuntun yang berakar rendah, sedang dan tinggi, supaya mereka semua dapat mencapai realisasi, ini sungguh luar biasa, sungguh langka.

Membaca buku karya Acarya, sungguh penuh semangat, batin ini bermandikan di samudera Prajna tanpa batas, ternyata Buddha-jnana sungguh mendalam dan tak terhingga. Justru menyadari bahwa di dalam Tantra terdapat Zen ! Anuttara-tantra, Maha-mudra, Maha-paripurna. Metode Dhyana Penembusan dari Acarya, semua merupakan Sarva-buddha-hrdya-mudra-abhipraya, sebuah metode agung untuk memahami batin dan merealisasi Buddhatta. Siswa menyadari kurang sumber daya dan berkarma berat, oleh karena itu memohon adhistana dari Acarya, memohon transmisi metode agung, membimbing siswa dalam bhavana sampai terealisasinya Kebuddhaan.

Teringat 15 tahun lalu, di rumah teman secara kebetulan membaca sebuah buku pembinaan roh, saya hanya membaca 2 sampai 3 bab kemudian meletakkannya. Kemudian mengatai : "Pengarangnya gemar berkisah mengenai dewa dan hantu, membesar besarkannya pada khalayak, pasti termasuk golongan penipu." coba Anda lihat, demikianlah jika belum berjodoh. Dimasa muda saya lebih emosional, saya merasa bahwa orang waras tidak akan membahas mengenai dewa-dewa, dan seorang Buddhist tidak akan membahas masalah iddhi. Demikianlah saya melawan apa yang Anda tuturkan.

Awal tahun ini, saya kembali mendengar orang mengatakan bahwa Acarya Lu mampu menangkap setan dan siluman, saya tidak percaya, saya kembali mengatai : "Orang ini pasti kelahiran kembali dari Asura, di dunia ini terlampau banyak pemimpin penjelmaan mara."  Dikarenakan saya suka menganggap diri sendiri memiliki hati paling suci, maka saya kategorikan semua yang mengganggu pikiran saya adalah mara, dan saya tidak akan banyak membahasnya.

Pada suatu hari, saya katak dalam tempurung ini melihat-lihat di toko buku. Ya Tuhan ! Ternyata Lu Sheng-yan telah menerbitkan demikian banyak buku, dia ini Buddha ? atau mara ? namun ini semua pasti ada nidananya. Saya memilih buku "Kompilasi Karya Lu Sheng-yan." untuk dibaca dengan lebih seksama. Dikarenakan harganya murah, satu buku hanya 20 dolar. Setelah saya membacanya dengan seksama di rumah , timbul rasa penyesalan di hati , dan saya menyadari kesalahan saya selama ini.

Tanpa memahami orang dan permasalahannya dengan seksama, namun saya langsung melontarkan fitnahan, mengkritik orang lain, apa lagi ini merupakan fitnahan terhadap seorang tercerahkan yang benar-benar menekuni bhavana dan menyebarluaskan Satya Dharma, sungguh sebuah pelanggaran berat bagaikan memfitnah Sang Buddha sendiri. Saat itu juga saya bersujud di hadapan Buddha untuk bertobat, memohon supaya Buddha dan Para Dewata mengampuni. Saat ini saya memohon pertobatan dihadapan Acarya, dan berharap supaya insan yang diliputi kegelapan batin segera melakukan instrospeksi diri dan bersarana pada Tri-ratna.

Setelah itu semua, saya memesan 5 Majalah Lian-bang , 5 Majalah Ling-xian Zhen-fo, untuk lebih mendalami isinya, untuk memastikan apakah itu semua merupakan bhavana berdasarkan Buddha Dharma !  Saya merasa isinya sangat baik, semua menuntun insan untuk memahami pandangan benar, merupakan Majalah Buddhist yang menyebarluaskan Satya Dharma. Dengan demikian , buku karya Acarya Lu sungguh patut dibaca, dan Dharma yang disampaikan-Nya patut untuk ditekuni. Kemudian saya memesan lagi 7 majalah terbitan terakhir untuk dipelajari lebih lanjut, bagaikan memasuki Gunung Manikam, memasuki Buddha-jnana, sungguh memperoleh pandangan benar , sungguh membuat orang memuji , dan timbul rasa hormat, bertekad menekuni Dharma Agung.

Guru Yang Tercerahkan telah muncul dihadapan,
Guru mulia yang sukar dijumpai ribuan tahun sekalipun,
Siswa menyadari afinitas telah terpenuhi,
Bagaimana mungkin menyia-nyiakannya.

Melampirkan foto yang terbaru ( siswa yang mengenakan jubah Hai-qing ) , serta menghaturkan sedikit pujana , memohon Acarya menganugerahkan adhistana dan abhiseka, mentransmisikan Maha-sadhana, demikianlah permohonan siswa.

Sarva-mangala-paripurna

Namaskara siswa yang baru memasuki Ling-xian Zhen-fo zong,
Yang Can-hong
30 Mei 1985


- Surat Kedua -

Yang saya hormati Bodhisattva Acarya Lian-sheng :

Tujuan satu-satunya dari Buddha Dharma adalah menuntun insan terbebas dari kesesatan, supaya tercerahkan, dan seorang umat Buddha hendaknya menelaah segala ajaran yang diperoleh, perlu untuk menggunakan Mata Dharma.

Sejak muda saya telah menyadari kehidupan manusia tidaklah kekal, pada awalnya saya menekuni Buddhisme Theravada, pada tahun 1966 saya belajar meditasi pada Bhiksu Shan-tuo-tou di Thailand, kemudian saya mengikuti jejaknya untuk menerima upasampada,  saya menyadari tujuan menjalani kebhikkuan adalah : "Buddha Dharma merupakan Darsana-bhumi yang melampaui segalanya."

Di tahun Min-guo 64, saya mengunjungi berbagai negara, saat berada di Taiwan, menetap disebuah vihara, ada banyak bhiksu yang mencaci Anda, semua mengatakan Anda adalah mara, saat itu saya juga ikut-ikutan mencaci, padahal saat itu saya sama sekali belum pernah membaca buku Acarya, hanya mengikuti ucapan orang lain belaka, sembarang menerima gosip, timbul rasa diskriminasi, tidak senang pada iddhi yang Anda tampilkan, timbul sedikit rasa dengki di hati ini, oleh karena itulah saya ikut-ikutan mencaci Anda.

Kemudian saya berkelana di berbagai penjuru, di Prancis saya sempat mendirikan sebuah vihara, di India dan Nepal sendiri saya juga sempat belajar Tantra, saya melakukan pembinaan diri dengan sungguh-sungguh, sampai saya menyadari "Seorang Arya tidak sepatutnya mabuk akan sanjungan."  juga " Tidak seharusnya risau dengan segala macam fitnahan."

Tahun 1985 saya berada di Melbourne Australia, melihat buku terbitan karya Anda, saya membelinya beberapa, membacanya dengan seksama, dan saya memperoleh banyak kebijaksanaan, saya menyadari bahwa semua yang saya peroleh dari berkelana di berbagai penjuru sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan isi beberapa buku Anda, saat itu juga saya merasa sangat takjub.

Pemikiran Acarya akan "Sarva-dharma Anattman." dan realisasi pandangan Tiada melekat  serta melihat segalanya dengan sebagaimana mestinya, semua ini sungguh sukar diperoleh, apalagi  "Tiada lahir dan tiada mati." pandangan nan Maha-paripurna, serta prinsip "Setara tiada dualimse." menuntun semua bahkan termasuk yang membunuh dan memfitnah Guru, ini sungguh kondisi spiritual yang tidak mampu direalisasi oleh Acarya biasa.

Saya sungguh menyesali ketidak tahuan saya yang lampau, dikarenakan kegelapan batin saya telah memfitnah Suciwan, saat ini juga melalui surat singkat ini saya memohon pertobatan dihadapan Hyang Arya.

Saya mengharap semoga Acarya berkenan menggoreskan pena, untuk menyalurkan Buddha Dharma yang paling sempurna, demi kedamaian dunia, memberi manfaat pada masyarakat, dan menuntun para insan merealisasi Anuttara-nirvana.

Segala yang telah saya lakukan dimasa lampau, saat ini saya bertobat, memohon Acarya memberikan adhistana, menerima saya sebagai salah satu siswa Zhenfo zong ! Sarana saya ini , menyingkirkan atribut ego , demi merealisasi Nirvana.

XX Bhiksu menghaturkan namaskara.
24 Juni 1985

Setelah membaca dua pucuk surat yang berisi pertobatan dan permohonan sarana ini, apa kesan saya ? Apa ?
Sesungguhnya saya juga tidak merasa sangat gembira, sebab yang memang seharusnya datang , pasti akan datang, dan yang seharusnya pergi, pasti akan pergi, batin saya senantiasa sejuk, dan hanya bertujuan menuliskan Dharma Nan Luhur, surat permohonan pertobatan semacam ini banyaknya bagaikan hamparan salju, sepucuk demi sepucuk terbang kemari bagaikan hujan Dharma yang tercurah.

Kutuliskan sebuah gatha !

Buku-Ku sungguh berbeda,
Mengandung Mata Dharma memandang Para Dewa dan Naga.
Saat tiba saat berjumpa pasti tercerahkan,
Mengikuti Acarya menjunjung Dharma.
Sejak lampau sampai saat ini mengemban aktivitas Tathagata,
Khusus membabarkan Dharma Tantra menuntun para insan ;
Ajaran Agung Satyagama, tiada kemelekatan ego dan orang lain,
Tercurah dengan leluasa di Sepuluh Penjuru Angkasa.

 http://ilovegm.wordpress.com/2012/12/14/蓮生活佛盧勝彥:誹謗者的皈依/

Monday, December 24, 2012

Pesan Bhiksu Liaoming

Buku Karya Dharmaraja Liansheng ke-141 -- The Southern Pacific Longing


Bhiksu Liaoming adalah guru pertama saya belajar Buddhadharma, setelah saya usai belajar Buddhadharma dan saat bersiap-siap turun gunung membabarkan Buddhadharma, Beliau khusus berpesan pada saya, kata-kata yang sangat penting, Beliau berkata:

"Mengingat kesinambungan nadi Dharma pembabaran Dharma, jauhilah polutan massa, juga supaya diri sendiri tidak terluka. Poin pertama, Anda harus menjauhi uang dan materi yang ekstrim sensitif, pembabaran Dharma Anda, dalam hal dana, hanya ada 1 kata, yaitu sukarela."

Begitu saya dengar, timbul kewaspadaan dalam hati, pesan ini selamanya terpatri dalam benak saya, bertahun-tahun sudah berlalu, segalanya sukarela, di dunia yang kejam yang penuh dengan 5 kekeruhan duniawi ini, terang selamanya.

Saya patuhi kata-kata Bhiksu Liaoming, dan menaati beberapa poin berikut ini:

1. Pembabaran Dharma sukarela semua.
2. Tidak pernah meminta uang pada orang lain.
3. Saya tidak mencampuri seluruh keuangan dan administrasi setiap Vihara Vajragarbha, Vihara, dan Cetiya.
4. Sepenuhnya tidak menyentuh uang yang ekstrim sensitif.
5. Menulis artikel mengimbau, "Mohon Tidak Memberikan Persembahan pada Mahaguru." Artikel ini dimuat di True Buddha News bertahun-tahun yang lalu. Saya sepenuhnya hanya seorang sadhaka yang membabarkan Dharma saja.

Bhiksu Liaoming selanjutnya berpesan pada saya:

"Anda turun gunung membabarkan Dharma dan menyeberangkan insan, pikiran insan adalah pusaran air dan jeram yang tidak pernah berhenti berputar, massa itu tidak nyata dan aneh, hati setiap manusia itu menakutkan dan berubah-ubah. Supaya Anda tetap bisa menginjakkan kaki di bumi ini, demi ketenteraman dan ketenangan dalam membabarkan Dharma, Anda sendiri harus siap mental, Anda mesti berhati-hati menanggapi rintangan seks, seks memang terlihat seperti nyata dan hidup, sangat menggoda, seorang sadhaka yang melatih diri, jika tidak waspada sama sekali, pasti rapuh dan ambruk!"

Pesan Bhiksu Liaoming ini sangat mengejutkan saya, saya mesti mengakui dalam hal ini saya tidak mengerti cara menanganinya. Sebelum saya menjadi bhiksu, saya membentangkan layar demi layar tarian impian cinta yang menarik, hidup saya mengandung ciri khas asmara yang kental, menikmati tabiat dan kegemaran yang unik dan memabukkan.

Pada masa silam, saya mempunyai impian yang luar biasa dan hidup, di masa yang akan datang, bukankah lebih lincah, lebih segar, kuasa dari kekuatan cinta, hampir menjadi kelemahan diri saya.

Namun, setiap kali saya berbaring, memejamkan mata, hal pertama yang saya pikirkan, adalah pesan dari Bhiksu Liaoming, guru tidak pernah bosan-bosannya memperingatkan saya, harus tanggapi dengan hati-hati, berjaga-jaga di masa yang akan datang.

Seperti diduga, banyak umat wanita menulis surat berbau cinta untuk saya.

Gerak-gerik dari banyak umat wanita, di tengah pemujaan dan fantasi, kentara sekali menunjukkan kesadaran lapisan dalamnya.

Bahkan ada nenek berumur 70 tahun, kerap kali menulis memo dan surat.

Saya sebagai pembabar Dharma, ditonjolkan selapis demi selapis oleh ciri khas asmara yang langka di dunia yang realistis ini.

Saya akhirnya mengerti peringatan dari pesan Bhiksu Liaoming, saya tanggapi dengan hati-hati, bahkan dalam mimpi pun tidak mengendur.

1. Saya hati-hati dalam berbicara maupun bertindak. (menulis surat, bicara di telepon)
2. Gerak-gerik khidmat.
3. Semua surat umat wanita diarsip. (untuk antisipasi digigit balik saat cinta tak berbalas)
4. Menulis surat melatih diri atas kemauan sendiri. Selembar dibakar, selembar diarsip. (Sama-sama untuk antisipasi digigit balik)
5. Umat wanita yang sengaja mendekati, diamati lama-lama, ditanggapi dengan hati-hati.

Waktu berlalu, saya sudah berumur 56 tahun, dalam hidup ini, muncul beberapa kali krisis. Saya sangat berterima kasih atas pesan Bhiksu Liaoming, Beliau terus memperingatkan saya, fakta bahwa hati manusia tiba-tiba berubah dan sulit diduga, jangan merugikan siapapun, waspadalah pada siapapun.

Hari ini, saya mau memperingatkan para umat pembabar Dharma:

"Jauhilah uang dan asmara duniawi dengan hati teduh."