Loading...

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, March 2, 2009

API HOMA 2


Peralatan Homa

Menurut peraturan kuno Tantrayana, perlengkapan homa, jenisnya banyak sekali. Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, peralatanya tidak sama, cara penggunaanyapun masing-masing berbeda.

Aliran Satyabuddha adalah Tantrayana yang paling cocok untuk orang-orang zaman sekarang. Bilal perlengkapan homa Tantrika Satyabuddha dapat sesuai dengan perlengkapan kuno tentu saja baik sekali. Tetapi bila tidak dapat sepenuhnya mengikuti peraturan kuno, harus melakukan penyesuaian, tidak perlu meniru cara kunko secara kaku, disesuaikan agar sebanyak mungkin siswa Satyabuddha dapat memparaktekkannya.

Perlengkapan Homa Tantrika Satyabuddha harus memperhatikan dua prinsip utama:

1. Yang diuatmakan adalah praktis, tidak melenceng dari fungsinya.

2. Elok dan luwes, tidak melupakan keanggunan.

Umumnya, perlengkapan dasar yang dipakai dalam pelaksanaan homa Tantrika Satyabuddha meliputi:

* Meja homa----digunakan sebagai altar homa(paling baik menggunakan bahan anti api).

* Tungku homa----untuk pembakaran bahan persembahan homa(terbuat dari tembaga atau besi cor).

* Wadah homa (mangkuk, piring, nampan)-----digunakan untuk menampung bahan persembahan (terbuat dari tembaga atau produk stainless-steel, atau produk keramik yang tahan terhadap suhu tinggi).

* Sepit homa, cedok(sauk) homa------untuk menjepit atau mencedok bahan persembahan lalu dimasukkan ke dalam tungku (terbuat dari tembaga atau produk stainless-steel).

* Tongkat Wajra----untuk melakukan sima-badhana dengan mengetuk ke-empat penjuru.

* Wajraghanta dan Wajra.

Bahan Persembahan Homa

Cakupan jenis bahan persembahan homa luas sekali. Yang utama adalah kayu homa, madu, susu, minyak nabati, daun the, dupa, serbuh cendhana, parfum, wijen putih, wijen hitam, gula putih, lima jenis padi-padian, kacang aneka warna, berbagai jenis biskuit, aneka kembang dan buah-buahan.

Bahkan semua bahan makanan dan busanapun dapat dijadikan bahan persembahan.

Pakaian----memberi persembahan kepada tubuh Adhinatha.

Makanan-----memberi persembahan kepada mulut Adhinatha.

Urapan Wangi-----memberi persembahan tubuh Adhinatha.

Kembang-----memberi persembahan kepada tangan Adhinatha.

Teh dan minuman ---memberi persembahan pada seputar Adhinatha.

Ini hanya sekedar contoh bahan persembahan yang berbeda-beda.

Pemilihan kayu homa, termasuk hal yang cukup penting. Dalam peraturan kuno, banyak sekali batasan-batasan terhadap kayu homa, cukup ketat. Santika (Si), Paustika (Cen), Wasikarana ( Huai) dan Abhicaruka (Shu), keempat Karman, kayu homa dari setiap jenis Karman ini ditetapkan menggunakan bahan yang tidak sama, tempat penghasilnya tidak sama, warnanya tidak sama dan lain sebagainya.

Misalnya menurut peraturan kuno, Santika harus menggunakan kayu cendana putih, atau kayu yang menghasilkan getah putih yang ditanam di tempat kelahiran orang suci. Paustika menggunakan kayu yang menghasilkan getah kuning yang ditanam di istana kerajaan. Wasikarana menggunakan kayu cendana merah atau kayu yang menghasilkan getah merah. Abhicaruka menggunakan kayu cendana hitam, atau kayu hitam produk pohon yang mati mengering atau yang ditanam di bekas medan perang atau pejagalan.

Kalau mau menuruti peraturan kuno ini, kebanyakan sangat sulit diperoleh.

Dalam menyiapkan kayu homa kita berusaha memenuhi peraturan kuno, tetapi dengan penyesuaian dengan zaman modern, kita menerapkan cara-cara yang memudahkan agar lebih banyak lagi Tantrika Satyabuddha dapat mempraktekkan homa.

Asal menghasilkan getah, teksturnya bersih, tidak bengkok, tidak retak tidak cacat tidak berlubang, tidak lapuk digerogoti ulat, memilki panjang 23 cm (7 chun). Ujung dan pangkal memiliki lebar yang sama. Ketebalan tidak dibatasi.

Dalam Santika, digunakan kayu yang agak putih, dicelupkan dalam susu ( atau madu ) yang berwarna putih.

Dalam Paustika, digunakan kayu yang agak kuning, dicelupkan dalam madu berwarna kuning.

Dalam Wasikarana, digunakan kayu yang agak merah, dicelupkan dalam minyak nabati (atau madu) berwarna merah.

Dalam Abhicaruka, digunakan kayu yang agak hitam, dicelupkan dalam tinta hitam atau cairan anggur berwarna ungu kehitaman.

Yang demikian sudah dianggap sesuai dengan peraturan.

Bahan persembahan yang lain, dalam Santika, Paustika, Wasikarana, dan Abhicaruka, juga dibedakan berdasarkan warna:

Santika¡Âªdiutamakan yang berwarna putih. Misalnya wijen putih, biji sawi (mustard) putih, susu putih, kembang putih, madu putih, gula putih, beras putih, kacang berwarna putih, kuaci putih, buah berwarna putih, biskuit/kue yang agak putih dan lain sebagainya. Dalam homa untuk tujuan pengobatan, boleh memberi persembahan obat-obatan.

Paustika----diutamakan yang berwarna kuning. Misalnya kacang berwarna kuning, madu kuning, gula kuning, dupa berwarna kuning, serbuk cendana (berwarna kuning), kembang kuning, biskuit berwarna kuning, gandum, jelai(barli), malt-sugar (maltosa/mai-ya-thang), minyak kacang tanah, roti, buah berwarna kuning dan sebagainya.

Wasikarana---diutamakan yang berwarna merah. Misalnya kacang merah, beras merah, dupa merah, minyak goreng berwarna merah, kembang merah, buah berwarna merah, semua makanan berwarna merah seperti bakso/ronde merah dan sebagainya.

Abhicaruka-----diutamakan yang berwarna hitam. Misalnya kacang hitam, wijen hitam, beras hitam, jus warna ungu kehitaman, dupa hitam, serbuk cendana hitam, kembang warna ungu atau biru, buah berwarna hitam (misalnya pir berwarna hitam, anggur hitam), kembang berduri (misalnya mawar), semua makanan berwarna hitam (misalnya cincau, pasta wijen dan sebagainya).

Pilihan bahan persembahan luas sekali, asal makanan atau barang yang bermakna dapat dipersembahkan.

Waktu sedang membakar homa, semua bahan persembahan, setiap macam harus dibayangkan berubah banyak sekali laksana samudra, memenuhi alam semesta. Bahan persembahan yang dapat terbakar diusahakan semua dimasukkan ke tungku. Setiap bahan bersembahan yang dimasukkan ke tungku, sebelumnya harus divisualisasikan seperti yang telah disinggung terdahulu.

p> Setiap jenis buah-buahan atau roti, setelah divisualisasi, diiris sehelai kemudian dimasukkan ke tungku untuk dibakar.

Semua cairan yang tak dapat terbakar, (misalnya susu, anggur, madu, jus) kecuali untuk celupan kayu homa, semuanya tak boleh dimasukkan ke tungku, untuk mencegah padamnya api homa. Kalau tetap mau ditungkukan, cukup menuangkan sedikit di luar tungku.

Setiap pelaksanaan homa, bahan persembahan yang utama adalah kayu homa, dupa, kembang, pelita, daun the, madu, susu, parfum, buah-buahan, minyak goreng (minyak nabati). Ini merupakan bahan persembahan yang selalu harus ada.

Penataan Altar Homa

Penataan altar (mandala) homa, dibedakan berdasarkan empar jenis Karman yakni Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, dibeda-bedakan berdasarkan warna dan bentuk.

Berdasarkan warna: Santika menggunakana warna putih, Paustika menggunakan warna kuning, Wasikarana menggunakan warna merah, Abhicaruka menggunakan warna hitam.

Berdasarkan bentuk : Santika berbentuk bulat, Paustika berbentuk persegi, Wasikarana berbentuk setengah lingkaran, Abhicaruka berbentuk segi tiga.

Kalu perlu, untuk sementara boleh menyusun mandala atau tungku dengan batu bata. (Misalnya di luar ruangan, atau saat penyelenggaraan upacara homa). Menata menurut bentuk di dalam atau bentuk di luar semuanya boleh.

Umumnya, meja homa yang berbentuk persegi empat sudah mewakili Paustika, tungku homa yang berbentuk bulat sudah mewakili Santika.

Tepat di depan meja homa, disemayamkan Adhinatha dan Dharmapala, boleh diletakkan lima bahan persembahan atau delapan bahan persembahan. Keempat tiang dari meja homa melambangkan Catur Maharajakayika. Keempat sudut meja homa harus diletakkan persembahan pelita atau lilin. Warna dari semua bahan persembahan serta lilin pelita teratai harus dibedakan berdasarkan Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka.

Bila ingin menyemayamkan Panca Tathagata di mandala, posisinya harus tepat:

Tengah-----Wairocana (putih)

Barat----Amitabha (merah)

Selatan----Ratnasambhawa (hijau)

Timur-----Aksobhya (kuning)

Utara------Amoghasiddhi (hitam)

"Pintu Langit" melambangkan mulut dewa, bahan persembahan diberikan kepada para dewa melalui pintu langit.

Tali Panca-Warna melambangkan sima-bandhana (pembatasan lokasi) dan kesucian, juga untuk membuat mandala tampak anggun dan agung.

Bahan persembahan utama diletakkan di sekeliling tungku homa. Bahan lain berturut-turut mengitarinya. Bila meja homa tidak cukup besar untuk menampung bahan persembahan, boleh menambahkan meja kecil.

Penataan perlengkapan upacara dan bahan persembahan dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.

API HOMA 1


Makna dan Kebajikan Homa

Dalam Tantrayana, persembahan api homa menempati posisi yang sangat penting. Baik dalam Tantra Tibet, Tantra Timur maupun dalam Tantra Cina, semuanya sangat penting. Terutama dalam Tantra Timur, homa ditempatkan sebagai suatu metode Dharma yang sangat penting. Harus berlatih lebih dahulu "Yoga Delapan Belas Jalur", kemudian menyelesaikan "Prosedur Penjapaan Garbhakosadhatu" dan "Prosedur Penjapaan Wajradhatu". Terakhir, baru boleh berlatih "Metode Agung Homa". Homa adalah tataran yang cukup tinggi dan terakhir dari keempat Metode Utama Pelatihan Tantra Timur.

Homa merupakan metode utama pencapaian siddhi dalam Tantrayana.

Dalam Tantra Timur, setiap Acarya harus menyelesaikan dulu upacara homa sebanyak 100 kali, 200 kali, bahkan 500 kali, barulah memenuhi syarat sebagai Acarya.
Oleh karena itu homa sangat penting sekali.

Mengapa pelaksanaan homa begitu penting? Karena melakukan homa sama saja dengan melakukan persembahan. Persembahan yang lazim anda berikan hanyalah persembahan kecil. Misalnya memberi persembahan sebuah pisang, mempersembahkan sebuah lilin, menyalakan beberapa batang dupa. Sedangakan untuk melangsungkan sekali upacara homa, identik dengan memberi persembahan selama setahun, bahkan 10 tahun. Dalam hal menambah kesejahteraan dan menambah kearifan, merupakan suatu metode yang sangat efektif.

Buddha Shakyamuni bersabda kepada siswanya: "Persembahan api dapat mengubah nasib, mentransformasikan semua urusan, terutama berdasarkan kekuatan samadhi diri sendiri ditambah dengan bantuan adhisthana dari para dewa."

Saat kita melakukan homa, setiap dewa akan datang membantu persembahan api ini, 12 Dewa, 28 Dewa, 33 Dewa, Dewa Sakra, Dewa Mahabrahma dan lain sebagainya, semuanya mungkin saja datang memberi bantuan dan sokongan. Oleh karena itu, homa merupakan upaya pemunculan fenomena "manunggaling kawula gusti" yang bersandar pada "daya sokongan para dewa serta kekuatan samadhi dari Tantrika", dapat menghasilkan kekuatan siddhi (pencapaian) yang sangat besar.

Api homa juga memiliki makna yang sangat penting:

Api homa melambangkan "kekuatan pikiran". Pikiran manusia memiliki wujud yang sangat mirip dengan api. Ini merupakan rahasia besar.

Api homa melambangkan penerangan, dapat menyingkirkan segala kegelapan dan kebodohan (kegelapan batin).

Api homa melambangkan pembersihan, membakar habis semua kekotoran batin dan rintangan.

Api homa melambangkan kearifan. Api merupakan simbol dari kearifan.

Api homa melambangkan penghormatan kepada dewa, merupakan persembahan yang sangat istimewa, dapat menambah kesejahteraan.

Api homa melambangkan nirwana.

Kebajikan dari api homa besar sekali. Sadhaka Satyabuddha yang melaksanakan homa, dapat memperoleh penerangan dan kesucian, melenyapkan rintangan kegelapan batin, menyingkirkan karma buruk serta kekotoran batin, menambah kesejahteraan, meningkatkan kearifan. Kekuatan pikiran dan daya kemampuan batin diri sendiri pun akan bertambah dan meningkat dengan sendirinya.

Pencapaian pelaksanaan homa dapat dibagi menjadi 3 tingkatan:

Pencapaian superior------bagai sang Maharesi Widyadhara, melesat dan mengembara di angakasa dengan leluasa.

Pencapaian medium-----memperoleh daya kemampuan batin yang besar, dapat menghilangkan wujud, menyembunyikan jejak.

Pencapaian inferior--- menolak bala, menambah kesejahteraan, merukunkan, menaklukan dan sebagainya, memperoleh pencapaian Karman, memenuhi semua permohonan duniawi.

Adhinatha dan Fungsi Homa

Dalam situasi apa harus melaksanakan homa?

Metode homa merupakan metode Karman yang bersifat duniawi. Keempat Karman Utama yakni Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, semuanya dapat diterapkan dalam homa.

Santika----menolak bala. Menyingkirkan anekan malapetaka, melenyapkan berbagai perselisihan dan penuntutan, mengobati bermacam-macam deraan penyakit, melenyapkan karma buruk, dosa berat, kekotoran, dan rintangan batin.

Paustika---menambah kesejahteraan. Memohon rejeki, memohon harta kekayaan, memohon keberhasilan dalam berdagang, minta rumah dan mobil, minta kenaikan gaji, minta kenaikan pangkat, minta panjang umur, minta kedudukan baik.

Wasikarana---merukunkan. Menyempurnakan semua hubungan antara manusia, meningkatkan hubungan baik antar manusia, membuat agar orang menghormati dan menyayangi Anda, minta jodoh, mohon kerukunan suami istri seta keluarga, memohon disayangi atasan mendapatkan kenaikan karier atau promosi.

Abhicaruka---manaklukan. Menundukkan pihak lawan, mematahkan niat dan pikiran jahat pihak lain membuatnya berpaling kepada kebaikan serta beriman kepada Buddha. Titik tolak dari pelaksanaan sadhana ini adalah cinta kasih.

(Tatacara Empat Karmawan Utama dapat dililhat dalam buku "Penerangan Saat Berkepala Gundul")

Akarsana (mengait) kerapkali digabungkan dengan Wasikarana.

Selain itu sebelum dan sesudah retret harus melaksanakan homa, memohon kelancaran dan keberhasilan retret.

Memohon perlindungan diri---saat memohon para dewa untuk datang melindungi Tantrika, harus melaksanakan homa.

Memohon agar gangguan Mara disingkirkan----bila ada yang sakit ditimbulkan gangguan mahluk halus, karma penyakit datang melanda, kebajikan tidak cukup, Dharmapada tidak hadir, harus melaksanakan homa.

Memohon para dewa melindungi dan menyokong upacara---sebelum dan sesudah upacara, memohon para dewa datang memberkati, harus melaksanakan homa.

Memohon adhisthana silsilah----ingin mendapatkan kontak (yoga) dalam sadhana, memohon daya adhisthana silsilah, mengadhisthana Anda agar berhasil dalam ber sadha-na, harus melaksanakan homa.

Memohon ketentraman dan kedamaian suatu lokasi----homa terbesar dapat menenteramkan pergolakan disuatu lokasi. Misalnya perang antar dua negara. Atau bencana alam dan malapetaka di suatu teritorial.

Memohon peingkatan kekuatan batin----melaksanakan homa dapat meningkatkan kesejahteraan seseorang, dapat meingkatkan kearifan; bila kebajikan (kesejahteraan) dan kearifan bertambah, itu sama saja dengan peningkatan kekuatan batin. Melenyapkan rintangan kegelapan batin, memperoleh cahaya kesucian.

Yang lainnya seperti peringatan para mahluk suci, abhiseka, pendoaan arwah (Chau Tu), pembangunan Vihara, memohon keramahan cuaca dan lain sebagainya, semuanya dapat melaksanakan homa.

Manfaat homa banyak sekali, keberhasilannya pun besar sekali.

Dalam Tantrayana ada ketentuan, setiap homa harus memiliki Adhinatha (mahluk suci yang diutamakan). Masing-masing sekte dalam Tantrayana pun memiliki Adhinatha Homa yang berbeda-beda.

Adhinatha Homa dalam aliran Satyabuddha adalah:

Santika(Si Cai Fa)-----Awalokiteswara sebagai Adhinatha. Karena pertolongannya yang penuh welas asih.

Paustika(Cen Yi Fa)---Jambhala(Dewa Waisrawana) sebagai Adhinatha. Karena kerelaanya untuk membantu dalam hal harta kekayaan.

Wasikarana(Cin Ai Fa)-----Bhagawati Cundi sebagai Adhinatha. Karena antusiasnya dalam hal menganyomi.

Abhicaruka(Siang Fu Fa)---Padmasambhawa atau Acalanatha sebagai Adhinatha. Karena keperkasaan dan kemampuan penaklukannya.

Memohon adhisthana silsilah---Mula-Acar ya (Pamakumara Putih) sebagai Adhinatha. Merupakan sumber/ akar adhisthana, mengadhisthana agar berhasil dalam sadhana.

Memohon kesejahteraan-----Padmakumara Putih sebagai Adhinatha, atau Jambhala sebagai Adhinatha.

Sebelum dan sesudah retret------Acalanatha atau Yamantaka sebagai Adhinatha, atau Catur Maharajakayika(Empat Raja Surgawi) sebagai Adhinatha.

Memohon penyembuhan sakit--------Tathagata Bhaisajyaguru(Buddha Pengobat) sebagai Adhinatha.

Memohon perlindungan diri------Acalanatha Widyaraja atau Catur Maharajakayika atau Yamantaka sebagai Adhinatha.

Memohon panjang umur-----Buddha Amitayus(Buddha Panjang Umur) atau Tara Putih sebagai Adhinatha.

Memohon agar gangguan Mara disingkirkan, penyakit yang ditimbulkan mahluk halus atau penyakit kejiwaan disembuhkan------Acalanatha atau Yamantaka(Pemimpin Dewa) sebagai Adhinatha.

Memohon lindungan dari para dewa---------Catur Maharajakayika sebagai Adhinatha.

Mendoakan para arwah (Chau Tu)---------Bodhisatwa Ksitigarbha atau Buddha Amitabha atau Padmakumara Putih sebagai Adhinatha.

Memohon peningkatan batin-----Mula Acarya( Padmakumara Putih) sebagai Adhinatha.

Selain itu ada "Dua Puluh Satu Tara", misalnya "Tara Penumbuh Kebajikan dan Kearifan", "Tara Penyelamat Bencana Pengurungan", "Tara Penyelamat Bencana Angin", "Tara Penyelamat Bencana Angin", "Tara Penyelamat Bencana Peperangan", "Tara Penyelamat Bencana Air" dan sebagainya, semuanya dapat dipilih sebagai Adhinatha Homa.

Homapun dapat digabungkan dengan Catur Karman Utama Guruyoga, Mengambil Padmakumara Putih sebagai Adhinatha untuk melakukan penolakan bala, peningkatan kesejahteraan, perukunan dan penaklukan, empat urursan.

Dalam homa jenis apapun, selain memberi persembahan kepada Adhinatha dan kerabatnya, juga harus memberi persembahan kepada Krodha (Dharmapala berwajah murka) serta para dewa Pelindung Dharma. Ini penting sekali.

Penjelasan Abhiseka

(pemberkatan khusus / inisiasi / anuttement / visudhi abhisecani) :

Pada umumnya, Abhiseka di dalam aliran esoteris terbagi menjadi empat kategori, yaitu :
1. Abhiseka yang merupakan perkenalan awal dengan ajaran Buddha Tantrayana
2. Abhiseka tentang pelajaran Dharma
3. Abhiseka tentang pengenalan ajaran Buddha Tantrayana yang mendalam, ini berarti seseorang telah mengenal baik metode esoteris dan telah berkontak batin dengan Yidam-Nya
4. Abhiseka Vajra Acarya, yaitu seseorang yang telah dianggap mampu menyampaikan dan mentransformasikan pelajaran Buddha Dharma kepada khalayak umum
Perbedaan antara metode esoteris dan non-esoteris bukan dalam hal Abhiseka saja, tetapi juga dalam hal keberhasilan dari setiap tahap latihan. Setiap sadhaka / tantrika yang melakukan latihan esoteris harus memahami hal-hal tersebut secara mendalam.

Pengertian Abhiseka adalah sesuai dengan cara dan penggunaannya pada dahulu kala. Saat itu di India, setiap ada penobatan raja maka seorang pendeta agung kerajaan akan menggunakan air laut dari empat penjuru untuk menyirami kepala raja dari atas hingga ke bawah sebagai pernyataan rasa suka cita dan pujian dari empat penjuru lautan, yang kelak akan mengarah / menuju ke-empat lautan lagi.

Di dalam aliran esoteris, Abhiseka memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi, karena setelah menerima Abhiseka, berarti para Buddha, Bodhisattva telah berkenan mentransformasikan sesuatu kekuatan yang mempertajam kesadaran sejati seseorang umat awam sebagai siswa-Nya (dipercaya, pada saat transformasi kekuatan dilakukan, maka pada saat itu juga, umat awam tersebut akan langsung dilindungi oleh 16 mahkluk suci yang akan langsung mengelilingi dan menjaga umat awam tersebut. Adapun para mahkluk-mahkluk suci tersebut antara lain : Empat Maha Raja Langit (Virudhaka, Virupaksa, Vaisravana & Dhrtarastra), Ganapati, Deva Saha, Vajrapanibalin, Vajra Yaksa, Guhyapada, Dewa Naga dan sebagainya).

Untuk dapat melakukan sebuah Abhiseka, khususnya Abhiseka bersarana jarak jauh, hanya seorang Guru Spiritual Sejati yang telah mencapai tingkat kemahiran tertentu dalam bhavananya saja yang mampu melakukan hal-hal tersebut, karena Guru tersebut harus sudah menguasai teknik langkah-langkah gaib dan kemampuan mengasimilasi indra-indra dan sinar dari seluruh Yidam Buddha secara nyata. Kemampuan langkah-langkah gaib diperlukan agar Guru tersebut dapat mendatangi umat yang ber-Sarana dimanapun umat tersebut berada, dan kemampuan mengasimilasi indra-indra dan sinar dipergunakan untuk penguatan seluruh indra-indra umat yang ber-Sarana serta pengubahan sinar kolektif dari para Buddha dan Bodhisattva untuk memancarkan cahaya-Nya secara terfokus kepada umat yang ber-Sarana.
Bantuan visualisasi secara internal di pihak umat yang ber-Sarana mengenai arti dari warna sinar yang berbeda-beda saat Abhiseka dilakukan,antara lain :
1. Sinar Putih, untuk menghilangkan karma-karma buruk.
2. Sinar Merah, untuk cinta kasih.
3. Sinar Kuning, untuk pengumpulan kesejahteraan duniawi.
4. Sinar Biru, untuk kekuatan atau penundukkan Mara.

Ingat, semua latihan dalam esoteris harus mendapatkan Abhiseka terlebih dahulu agar proses akhir dari latihan tersebut membuahkan hasil yang diharapkan.
__________________
Akulah Mahakala Sang Pelindun



Thursday, February 26, 2009

The Art of James R. Ure


I finally have my new art website up and running so you can check it out if you haven't seen my work yet. I have reduced prices on the prints and the originals. I have done two paintings available for purchase that are Buddhistm related. Just click on the titles below:


The Awakening

The painting below is not specifically Buddhist but does touch on Buddhist themes:

The Veil of God

PHOTO: James working on a new painting that will depict the element Earth including bamboo stalks. I am painting a series of these based on the Taoist emphasis on nature, which will include all four elements.
~Peace to all beings~

Wednesday, February 25, 2009

The Big Sit Day 3.

Well today is day three of the meditation challenge and I'm going strong. I have been meditating before the start of the challenge but it's great to have this chance to do this with people from all over the world, which feels like a virtual 90 day retreat. I thought of all of humanity as if meditating in one beautiful mass whether morning, noon or night I figured someone was most likely meditating while I was and that was a beautiful thought.

Oneness rose softly yet steadily and firmly into the present moment yesterday while meditating as concentration focused on the cycle of breathes. Soon I was just aware of the breathing and felt as though I was riding in a vast ocean of oneness from wave to wave as my identity slipped from my minds grip with ease. In that moment I was the ocean and the wave but neither at the same time. It made me feel small but not in an insignificant way but rather in a liberating way.

I'm contemplating the genjokoan and hope to have some insights in the days to come.

~Peace to all beings~