Loading...

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, April 14, 2009

Vajra Dharma Yoga

Konsep Sadhana Vajra Dharma Yoga :

Maha Guru Lu pernah berkata, "Bila seorang sadhaka Satya Buddha telah berhasil di dalam Sadhana Vajra Dharma Yoga ini, maka sadhaka tersebut akan memiliki hati dan sifat vajra serta dapat memilih salah satu Vajra agar dapat melaksanakan latihan dan penekunan Buddha Dharma. Bila sadhaka tersebut memiliki sifat Metta Karuna dan tekun di dalam latihannya, maka akan dapat menyingkirkan sifat kebencian, ke-Aku-an dan kegelapan batin".

Latihan Vajra dari Satya Buddha memiliki latihan Sadhana Vajra dari Lima Vajra Besar. Bila saja seorang siswa Satya Buddha dapat menguasai salah satu dari lima besar Sadhana Vajra Dharma Yoga tersebut dan memperoleh hasil, maka siswa tersebut akan segera mencapai tubuh ke-Buddha-annya.
Pengertian Lima Vajra Besar adalah : manifestasi dari Maha Vairocana Buddha, Akshobya Buddha, Ratna Sambhava Buddha, Amitabha Buddha dan Amoga Siddhi Buddha. Ada juga sadhana vajra Satya Buddha lainnya yaitu seperti : Sadhana Acalanatha, Sadhana Ucchusma dan sebagainya.

Kelima Panca Dhyani Buddha termanifestasi di dalam Vajrasattva. Hal ini yang menyebabkan Sadhana Vajrasattva dimasukkan lebih awal di dalam Sadhana Catur Prayoga, agar Sadhaka pemula dapat menumbuhkan benih-benih hubungan jodohnya terlebih dahulu dengan Panca Dhyani Buddha.
Hal ini juga bertujuan untuk melindungi Tri Ratna dan menundukkan serta mengendalikan Mara, dan untuk memberikan pelajaran dan bimbingan kepada seluruh mahkluk hidup yang mempunyai makna esoteris terkait dengan Upaya Kausalya.

Maha Guru Lu juga pernah berkata, "Di dalam pelajaran Tantrayana Satya Buddha, bila seorang siswa atau sadhaka telah mencapai latihan Sadhana Vajra Dharma Yoga, maka akan memperoleh kekuatan besar untuk menundukkan dan mengendalikan semua Mara, seluruh tubuhnya akan memancarkan sinar suci yang nyata, dan semuanya akan berjalan dengan tanpa hambatan, berjalan dengan kesempurnaan. Ini semua akan memperlancar semua pelaksanaan latihan Dharma, dan sadhaka tersebut dapat memperoleh gelar Acarya tingkat pertama di dalam aliran esoteris Satya Buddha".

Vajra Dharma Yoga

Konsep Sadhana Vajra Dharma Yoga :

Maha Guru Lu pernah berkata, "Bila seorang sadhaka Satya Buddha telah berhasil di dalam Sadhana Vajra Dharma Yoga ini, maka sadhaka tersebut akan memiliki hati dan sifat vajra serta dapat memilih salah satu Vajra agar dapat melaksanakan latihan dan penekunan Buddha Dharma. Bila sadhaka tersebut memiliki sifat Metta Karuna dan tekun di dalam latihannya, maka akan dapat menyingkirkan sifat kebencian, ke-Aku-an dan kegelapan batin".

Latihan Vajra dari Satya Buddha memiliki latihan Sadhana Vajra dari Lima Vajra Besar. Bila saja seorang siswa Satya Buddha dapat menguasai salah satu dari lima besar Sadhana Vajra Dharma Yoga tersebut dan memperoleh hasil, maka siswa tersebut akan segera mencapai tubuh ke-Buddha-annya.
Pengertian Lima Vajra Besar adalah : manifestasi dari Maha Vairocana Buddha, Akshobya Buddha, Ratna Sambhava Buddha, Amitabha Buddha dan Amoga Siddhi Buddha. Ada juga sadhana vajra Satya Buddha lainnya yaitu seperti : Sadhana Acalanatha, Sadhana Ucchusma dan sebagainya.

Kelima Panca Dhyani Buddha termanifestasi di dalam Vajrasattva. Hal ini yang menyebabkan Sadhana Vajrasattva dimasukkan lebih awal di dalam Sadhana Catur Prayoga, agar Sadhaka pemula dapat menumbuhkan benih-benih hubungan jodohnya terlebih dahulu dengan Panca Dhyani Buddha.
Hal ini juga bertujuan untuk melindungi Tri Ratna dan menundukkan serta mengendalikan Mara, dan untuk memberikan pelajaran dan bimbingan kepada seluruh mahkluk hidup yang mempunyai makna esoteris terkait dengan Upaya Kausalya.

Maha Guru Lu juga pernah berkata, "Di dalam pelajaran Tantrayana Satya Buddha, bila seorang siswa atau sadhaka telah mencapai latihan Sadhana Vajra Dharma Yoga, maka akan memperoleh kekuatan besar untuk menundukkan dan mengendalikan semua Mara, seluruh tubuhnya akan memancarkan sinar suci yang nyata, dan semuanya akan berjalan dengan tanpa hambatan, berjalan dengan kesempurnaan. Ini semua akan memperlancar semua pelaksanaan latihan Dharma, dan sadhaka tersebut dapat memperoleh gelar Acarya tingkat pertama di dalam aliran esoteris Satya Buddha".


Acarya

Tingkatan Acarya dalam Tantrayana Satya Buddha

Acarya adalah seorang Bhiksu yang mengajarkan Buddha Dharma. Bagi Acarya di aliran Satya Buddha harus memiliki dua syarat utama, yaitu :
1.
Telah memasuki Pertemuan para Buddha dan Bodhisattva (Samadhi) dan telah menerima Abhiseka Acarya. Juga telah melatih semua metode Dharma hingga memperoleh hasil serta mendapat restu dari Maha Mula Vajra Acarya Lian Sheng sebagai Acarya.
2.
Telah memasuki Kesadaran Maha Vairocana serta memperoleh restu dari para Buddha, Bodhisattva dan para Acarya lainnya. Dan dengan nyata telah menerima penyampaian pelajaran Dharma Buddha.

Pada umumnya tingkatan Acarya terbagi menjadi empat kategori, yaitu :
1.
Acarya.
Telah mengenal tata upacara dan melaksanakannya dengan penuh keyakinan. Ini adalah Acarya tingkat pertama.
2.
Maha Acarya.
Telah mengerti tentang teori dan pelaksanaan latihan-latihan esoteris. Ini merupakan Acarya tingkat madya.
3.
Vajra Acarya.
Semua penghayatan telah dapat dimengerti dengan baik. Ini merupakan Acarya tingkat atas.
4.
Maha Mula Vajra Acarya.
Telah memperoleh kebijaksanaan tertinggi. Ini merupakan Acarya tingkat tertinggi.

Vajra Acarya mengemban tugas dari Tantrayana, meneruskan penyampaian Dharma dan kebijaksanaan para Buddha. Oleh karena itu, selayaknya setiap orang memberikan penghormatan dan persembahan dalam rangka mendukung dan melestarikan Buddha Dharma.




Peraturan Sila-sila dalam Satya Buddha :

Peraturan Sila-sila dalam Satya Buddha :

Bagi para sadhaka Satya Buddha, setelah menerima Abhiseka, maka diwajibkan untuk mentaati peraturan sila yang tertera pada sertifikat bersarana, dengan demikian di dalam latihannya akan memperoleh perlindungan dari para mahkluk suci yang menyertai sadhaka serta memperoleh dukungan kekuatan spiritual yang sebenarnya.
Seandainya melanggar peraturan sila dan melakukan karma buruk, maka akan ditinggalkan oleh para mahkluk suci tersebut dan dengan demikian, segala macam penekunan dharma esoteris yang dilakukan akan menjadi tidak bermanfaat, dan mungkin akan terjatuh ke dalam kondisi semula yang lebih buruk.

Seperti yang tertera di dalam surat sertifikat bersarana "Berdasarkan petunjuk dari Sang Buddha, dengan pikiran yang mantap dan sepenuh hati berlindung kepada Buddha, juga berlindung pada Maha Mula Vajra Acarya Lian Sheng hingga akhir hayat untuk melaksanakan kebajikan serta selama hidup akan mentaati sila, patuh pada negara, berbakti pada kedua orang tua, menghormati guru dan para sesepuh. Semoga para Buddha dan Bodhisattva menjadi saksi dan berkenan membimbing". Yang dimaksud dengan hingga akhir hayat adalah selamanya melaksanakan Dharma dan mentaati Pancasila yaitu :

1.
Tidak membunuh.
Agar selalu hidup dengan penuh welas asih, tidak membunuh mahkluk hidup serta mau aktif dalam melepaskan mahkluk hidup lainnya.

2.
Tidak minum minuman yang ber-alkohol, juga sebaiknya tidak merokok.
Agar selalu mawas diri dan menjaga kestabilan pikiran, jangan sampai lupa diri.
Sedangkan himbauan untuk tidak merokok adalah karena akan menghambat kelancaran jalannya prana di jalur Avadhuti di tulang belakang saat melakukan tahap awal di Sadhana Vajra Dharma Yoga.

3.
Tidak berjinah.
Selain hubungan suami istri, semua tindakan dan pemikiran yang menyimpang tentang seks diluar hubungan suami istri digolongkan sebagai perjinahan.

4.
Tidak Berbicara Palsu.
Selalu mengatakan hal-hal yang benar, tidak berbohong, tidak memfitnah dan tidak menyerang perbuatan atau pemikiran atau ucapan orang lain.

5.
Tidak Mencuri.
Tidak mengambil sesuatu hak atau barang yang bukan milik sendiri.

Juga memahami 14 sila pokok Tantrayana dan 50 syair Tata Krama Tantrayana, serta melaksanakan Sepuluh Karma Baik (Dasa Kusala Karma) dan menjauhi Sepuluh Karma Buruk (Dasa Akusala Karma).
Karma buruk yang paling berat hukumannya adalah melakukan pembunuhan terhadap orang tua kandung, melukai atau memfitnah Tubuh Buddha atau seorang Arahat, merusak pagoda atau arama atau pratima atau Kitab Suci, mencuri barang milik vihara, menghujat Buddha Dharma serta mengintimidasi para pelaksana Buddha Dharma dan memecah belah perkumpulan Sangha.

Seorang siswa yang tidak mentaati sila-sila tidaklah sesuai dengan hukum ke-Buddha-an, bahkan bila seseorang telah bersarana kepada Satya Buddha, pengabaian sila-sila ini akan membuat "Sertifikat ber-Sarana" tidak berguna dan menjadikan sertifikat itu tidak lebih dari sepotong kertas belaka.

Karena semua insan manusia di dunia tidak sempurna, tentu saja ada yang akan melanggar sila. Orang yang melanggar sila tersebut harus menyesali perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dengan melakukan penyesalan (lihat Sadhana Pertobatan), maka lama kelamaan orang yang menyesali segala perbuatan buruknya atau pikiran buruknya maupun ucapan buruknya, akan memperoleh berkah dari para Buddha serta dapat dipastikan akan memperoleh kebahagiaan dan dapat menyingkirkan akibat-akibat dari karma buruknya.

Penjelasan Catur Sarana


Pengertian Sarana adalah mencari perlindungan atau bersandar atau memperoleh penyelamatan.
Penyelamatan disini melingkupi tumimbal lahir di alam brahma / dewa, asura, manusia, binatang, hantu kelaparan dan neraka, agar terbebas dari roda samsara dan kilesa.

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian Esoteris di perkenalan Buddha Tantrayana - esoteris depan, "Dalam esoteris, sebuah kegiatan sadhana merupakan hal yang amat sakral dan penting sehubungan dengan adanya kemungkinan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an secara sekejab, dan hal pencapaian ini sangat berhubungan erat dengan keberadaan seorang guru spiritual Tantrayana yang ahli dan yang diyakini mampu untuk memberikan pertolongan dan bimbingan ajaran secara jelas kepada seorang sadhaka pemula melalui sebuah ritual pemberkatan khusus pada tahap awal memulai pelajaran esoteris (biasa disebut : inisiasi / abhiseka / anuttement / visudhi abhisecani).
Pentingnya sebuah ritual pemberkatan khusus ini didasarkan pada kepercayaan tentang adanya perbedaan tingkatan pencapaian spiritual yang dimiliki oleh seorang guru dengan seorang calon murid, yang pada umumnya tingkat spiritual seorang guru adalah dianggap "lebih menguasai dan suci" jika dibandingkan dengan tingkat spiritual seorang murid. Sehingga atas dasar inilah seorang guru dalam tradisi Tantrayana memiliki tanggung jawab maksimal untuk menyelamatkan dan menanggung seluruh karma-karma buruk yang dimiliki oleh murid tersebut.
Dikarenakan seorang guru memiliki tanggung jawab berat seperti diatas, maka perlindungan utama di dalam aliran esoteris didasarkan pada 4 (empat) mustika yaitu : berlindung kepada Guru - berlindung kepada Buddha - berlindung kepada Dharma - berlindung kepada Sangha, biasa disebut sebagai Catur Sarana." maka di dalam aliran esoteris ini memiliki Catur Sarana yang diucapkan :
Namo Guru Bei atau Namo Ku Lu Pei
Namo Buddhaya atau Namo Pu Ta Ye
Namo Dhammaya atau Namo Ta Mo Ye
Namo Sanghaya atau Namo Seng Kia Ye

Ada orang yang berpendapat, apabila kita dapat menjaga pikiran dengan baik atau memiliki keyakinan kepada Buddha dengan menyebut nama-Nya dan bernamaskara dihadapan-Nya maka tidak perlu bersarana (berlindung) lagi. Sebenarnya yang terjadi adalah, hal tersebut hanya merupakan latihan bagian luar dari pengertian tentang Buddhisme, seandainya ingin benar-benar memahami ajaran Buddha Dharma maka harus melakukan latihan bagian dalam dengan melakukan Sarana diatas.
Terlebih-lebih lagi, aliran esoteris sangat menjunjung tinggi adanya sebuah silsilah antara seorang Guru dengan seorang murid, yang mencerminkan kemampuan bimbingan dari Guru tersebut yang telah memiliki pengalaman spiritual dengan kondisi alam semesta.

Sebenarnya, makna dari Sarana adalah "keyakinan". Dengan adanya keyakinan seseorang baru dapat melakukan Sarana, setelah itu melaksanakan pelatihan diri menurut metode keyakinannya masing-masing dalam hal ini esoteris, sehingga baru dapat memperoleh makna Sarana yang sesungguhnya.

Semua metode Dharma bertujuan mengembangkan Upaya Kausalya (metode yang mudah dilaksanakan agar mampu menuntun para insan untuk memulai perjalanan pelatihan spiritual bagi dirinya sendiri, hal ini terkait dengan adanya 84.000 kemungkinan upaya Dharma). Perlindungan yang paling utama adalah "berlindung pada Diri Sendiri", ini adalah metode yang dilaksanakan oleh para sadhaka / tantrika, dan setelah mampu menghancurkan avidya (kebodohan), maka akan kembali pada sifat sebenarnya dari inti sari batin dan mampu merealisasikan secara benar Tubuh Dharmakaya yang murni.