Loading...

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, July 31, 2011

“Shi Sang Chi You Mama Hau”

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria
berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota
tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah
yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya
menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka
duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan
wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus
berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya,
sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu,
umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang
tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal
membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut
mereka akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia
memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu
keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh
orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di
dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah
ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat
terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.
Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan
mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya
akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang
akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan
permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan
anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk
membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar
bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak
kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,
tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan
uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat
sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk
meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih
berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan
bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa
keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah
melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam
menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat
lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air
mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia
terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota
itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

==========000000000 0======== ======

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi
seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam,
untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di
sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan
menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua
pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup
berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena
ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah
mengeluh dengan pekerjaannya?

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras.
Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb
harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat
sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya
mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk
membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah
berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat
apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari
alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain.
Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil
sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang
tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang
ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan
kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya
sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang
dilakukan oleh sang ibu???. 

==========000000000 0======== ======

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak
yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di
hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama,
dan bersama2 menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di
Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai
penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari2
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang
memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu
ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk
sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia
berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama
ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu
mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain
yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari
rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan
tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya
sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak
dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam
tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2. Ketika
menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang
itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari
ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama
sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang
jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi
ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan
marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang
anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan
tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan
ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana uang
untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia
tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah
ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah
mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah
mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu
sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak
menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih,
karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi
kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju
ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya.
”Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya. Kebetulan
sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya
yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak
itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk
menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon
agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan
tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat
kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba2
muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan
tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di
tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang
membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan
hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak
kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu? .”Maafkan saya, Nak.”
”Tidak Bu, saya yang bersalah”??? ..

===========000= ========= =======

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah,
tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan
hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah
kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru
menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri.
Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya
hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa
bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka
begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

===========000= ========= ========

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter
mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang
konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya.
Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan
solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada
sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya
berkeliling kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali,
menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk
sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam
kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak.
Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu.
”Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya
sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang
anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang
anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak
dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata
”Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan
nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau
ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau
saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb
tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 “Kalau ibu
sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa
dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”,
ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta2
dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu
menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan
menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik.
Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah
kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk
memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya
mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri
itu dibatalkan, demi anaknya juga??..

============ 000====== ===

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain,
mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun
tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.
Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang
ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang
memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga,
sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu
ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan
memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju
rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah
kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di
depan rumah tsb, menangis “Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.”

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu
tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam
surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah
pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila
kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih.
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar
bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia
pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk
dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari
tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah????..

============ 000====== ========

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki
bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan
ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi hasilnya
nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar
untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah
”Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
”Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”.
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
bumi???.
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya
menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus
mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang
menganggapnya sebagai orang gila?.

============ 000====== =======

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan
rela mengorbankan nyawanya?..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,
ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah
aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda,
diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ?

Tidak diragukan lagi
”Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini” .

Saturday, July 30, 2011

Boehner, Obama relationship tested in debt fight

WASHINGTON — The fight over the debt ceiling has became a dramatic leadership take a look at for President Barack Obama and House Speaker John Boehner, opponents in an exceedingly divided government who've gone from negotiating in secret to facing off in public at a watershed moment for the country and their own political careers.

As the standoff enters its unsure endgame, it's unclear that of them can commence ahead — or if the 2 leaders can rise or fall beside days left to strike a deal and stave off a probably catastrophic default on U.S. monetary obligations.

After Boehner succeeded in maneuvering Obama to the sidelines and grabbing management of the talk, the speaker's standing was abruptly thrown into question late Thursday when he didn't muster the required votes from tea party-backed conservatives to pass debt-ceiling legislation opposed by Obama and Senate Democrats. Boehner revised the bill to create it a lot of palatable to conservatives, however the delay and disarray undercut the speaker's claim to be the accountable leader, giving Obama another gap to undertake to secure that mantle for himself.

Obama quickly deployed his distinctive bully pulpit, asking the general public Friday to place pressure on lawmakers. "If you wish to ascertain a bipartisan compromise — a bill will|which will|that may} pass each homes of Congress which I can sign — let your members of Congress recognize," Obama exhorted. Congressional phone lines were flooded.

Indeed throughout the twists and turns of the talk Obama and Democrats have gave the impression to commence on high politically, with polls showing that the general public thinks Republicans are being less cheap and want to compromise because the 2012 presidential election approaches.

Yet by most accounts, Boehner and his Republicans have already won on policy, forcing a national conversation regarding debt and pushing Obama to concentrate on historic spending cuts and drop demands for brand new taxes. "If you are spending extra money than you are taking in, you wish to pay less of it," Boehner said.

Now the question is how it ends.

Boehner can be forced to swallow a compromise opposed by enough tea party conservatives to create a threat to his speakership. Meanwhile, Obama is holding out for his one remaining criterion, a compromise that ensures the debt ceiling are raised till 2013.

A last-minute crisis-averting deal might prove a bitter victory at best.

If they do not pull it off, though, Obama might go down because the president who lost the country' triple-A credit rating, and Boehner because the House speaker who let it happen.

The consequential developments have played out around a first-term president and newly elected speaker who've cast a solid if not significantly heat operating relationship, shot through with moments of deep frustration.

Personally, the 2 have very little in common. Boehner, 61, may be a laid-back, typically emotional small-business owner from Ohio; Obama, 49, a cerebral and aloof law professor from Chicago. Their off-the-clock socializing up to now started and ended with a game of golf in June.

The two men achieved one major legislative win along after they reached a deal to stave off a government shutdown in April. they need a ways that to travel before they forge a relationship to rival the storied pairings of predecessors like President Ronald Reagan and Speaker Tip O'Neill.

But aides to each men note that they trust one another enough to possess begun operating along on a so-called grand discount of historic spending cuts, Medicare reform and tax will increase, though aides differ regarding whose plan it had been. Boehner's camp says the speaker pushed the president toward the large deal in an exceedingly conversation throughout their game of golf, whereas White House aides say Obama already wished to travel in that direction.

Although every blamed the opposite when the deal subsequently went south, the very fact that they could not pull it off had very little if something to try to to with their personal relationship, analysts said. Boehner was contending with a tea party-influenced caucus able to revolt over tax will increase, whereas Obama held out for a significant package that would dramatically impact the deficit whereas taking the debt ceiling off the table through the 2012 presidential election.

"By the time we tend to ought to June, it might are Jesus within the White House and Buddha leading the House of Representatives and it isn't clear to me that talks would have reached a substantially totally different conclusion," said Bill Galston, a senior fellow at the Brookings establishment.

That hasn't kept the ups and downs of their relationship from being analyzed sort of a celebrity summer romance, a narrative Obama himself played into earlier this month once Boehner pulled out of talks with him for the second time.

Obama complained that Boehner hadn't been returning his calls and added wryly, "I've been left at the altar currently one or two of times."

For his half, Boehner said that Obama had "moved the goal posts" by putting a lot of taxes on the table, and contended that negotiating with the White House was like dealing "with Jell-O."

At times the mutual recriminations are strikingly similar.

"The question is, What are you able to say yes to?" Obama asked of House Republicans.

"The president wouldn't take yes for a solution," Boehner complained.

The conflict peaked Monday, when Obama delivered a prime-time address on the debt — and Boehner, having determined to not let Obama's appearances go unanswered, requested and got tv time to follow him. That presented a spectacle sometimes seen solely on the evening of the State of the Union address, when the president addresses the state and a member of the opposition party rebuts him.

But as Boehner walked far from the microphones, he created a comment not meant to be overheard by reporters: "I did not register for going mano a mano with the president." Aides said it had been an expression of the speaker's humility and therefore the surreal nature of the events unfolding. however a pitched rivalry with the House speaker won't be specifically what Obama signed up for, either.

Announcement: Urgent Disaster Relief for Japan

Announcement: Urgent Disaster Relief for Japan

2011-03-11
An earthquake at 8.9 on the Richter scale struck Japan on March 11th centering about the northeast coastal region of Japan is declared to be the most unprecedented quake ever recorded in the history of Japan.

The quake was found to have originated from the ocean floor which brought on huge tsunami waves engulfing inland infrastructures, buildings, automobiles and farms.

According to report, Aumori County, Miyagi County, Iwate County and Fukushima County and other northeast coastal areas which border Pacific Ocean have been vastly devastated leaving behind ruins and swampy wasteland everywhere.

There are some 1800 residential buildings that were demolished and drenched in Fukushima County alone; over 300 buildings in Ofunato City of Iwate County were destroyed by the quake; Sendai Airport and Matsushima Air Force Base have partially submerged under water after the tsunami onslaught. In Wakabayashi District of Sendai City, police have discovered 300 dead bodies in the ruins. Largely, transportation by sea, air and land are disabled; electricity and communications are cut off.

The whole city of Kesennuma is almost submerged under water. Fishing vessels were overturned by the tsunami waves causing flammable fuel in the vessels to leach out which eventually caught fire and burned. Subsequently, the fires from the vessels floated along with the flowing water and were carried off to multiple areas of Kesennuma City causing a widespread of fire to residential homes and flammable materials. Once the fire spreaded on, there was no way to extinguish it as the circumstances stood. Explosions were heard every now and then as the spread of fire continued. Upon daybreak, the whole city of Kesennuma already became a sea of fire raging ruthlessly.

After the major quake has occurred, some 50+ after-shocks ensued in the region; most regional areas underwent quakes that measured at least 6.0 on the Richter scale which further terrified the surviving residents.

A petroleum refinery plant on the outskirts of Tokyo City also suffered a raging fire spewing flames into the sky. There were over 80 fire incidents reported in the disaster-stricken region.

The state of emergency is urgent which distresses the people throughout.

So far there are over ten thousand fatalities and the number is still growing. Numerous civilians were drowned, buried alive and trapped underneath heavy building rubbles awaiting rescue. Numerous survivors are in urgent, desperate need of water, food, medical treatments and temporary shelters.

True Buddha Foundation is appealing to all True Buddha temples, chapters and fellow disciples/devotees to call forth the Four Magnanimous Mindsets, namely, Kindness, Compassion, Joy and Impartiality as professed by our Grand Master to help save the Japan earthquake-tsunami disaster victims.

Everybody ought to recite the Great Relief for Calamities Mantra as many times as possible: Ta chir za za la, ta chir lu low li, maha lu low li, a la mo la, dor la, soha and practice True Buddha Tantra Dharma, conduct Bardo Deliverance Ceremony or Dharma Assembly and transfer all the merits acquired from the above activities to the afflicted souls of the Japan earthquake-tsunami victims as such: ``Souls of the calamity victims be rid of fear and be delivered to the Pure Land of Buddha; may the disaster relief work and post-disaster recovery and rebuilding work proceed smoothly without a hitch.``

All are to be forthcoming in effectuating the disaster relief work; those with monetary means should donate to the disaster relief cause; those with manpower should volunteer themselves to the disaster relief cause. Help the disaster victims recuperate and rebuild their homes.

Disaster relief by monetary donation can be done in the following ways: (Be sure to indicate on the remittance paperwork that the donated money is intended for ``Japan Disaster Relief Fund`` True Buddha Foundation will appropriate the fund to World Lotus Light Charity Foundation. The fund will henceforth be funneled to the International Disaster Relief Foundation.)
(1) Via internet: www.tbsn.org
(2) By remittance: make check payment payable to ``True Buddha Foundation``

Mailing address: 17110 NE 40TH COURT, REDMOND, WA 98052, U.S.A.
Telephone: (425)885-7573 Fax: (425)883-2173

Thanks to all temples, chapters and fellow devotees for evoking the compassion to save the victimized sentient beings!

Cordially,
World True Buddha Foundation Board of Committees

Memunguti Tahi dan Kencing

Memunguti Tahi dan Kencing
 
Oleh Maha Mula Acharya Liansheng
Diterjemahkan oleh Zhiwei Zhu


Saat ibu masih hidup dulu, ia sering berkata pada kami:
'Kalian itu saya besarkan dengan 'memunguti tahi dan kencing.' (dengan susah payah).
Ia berkata lagi: 'Pada saat tangan menggendong anak, saat itu barulah memahami perasaan orangtua.' (Artinya adalah, pada waktu kita mempunyai anak, baru memahami beratnya beban menjadi orangtua.)
Aku pada saat itu tidak merasakan apa-apa setelah mendengar kata-kata itu. Masa-masa pertumbuhan saat itu, didalam hati-Ku bahkan berpikir: 'Ibu pemarah.'
Aku biang kerok kenakalan.

Belakangan, setelah Aku menikah dengan Acharya Lianxiang, lahirlah Fo Qing dan Fo Qi.
Karena pekerjaan geodesi di luar yang bersifat jangka panjang, saat mempunyai anak seluruhnya diurus Acharya Lianxiang, pada saat itu kesibukan pekerjaan geodesi di luar, ditambah dengan konsultasi hongshui dan spiritual, urusan keluarga seluruhnya ditanggung oleh Acharya Lianxiang.
Foqing sangat manja pada Acharya Lianxiang. (sampai mandipun harus duduk didalam bak mandi)
Lambung dan usus Foqi selalu kurang baik.
Acharya Lianxiang mengasuh satu yang besar satu yang kecil, telah mengunjungi semua dokter anak di kota, akhirnya, setelah dibawah pengawasan DR. Zhou Yi Shou, barulah sembuh penyakit alergi usus dan lambung Fo Qi.
Fo Qi hampir meninggal, ia diselamatkan oleh Dr. Hu dengan obat penguat jantung.
Acharya Lianxiang 'memunguti tahi dan kencing' Fo Qing dan Fo Qi, perasaan-Ku biasa-biasa saja karena karena Aku berada di luar.
Aku hanya tahu, sejak ada Fo Qing dan Fo Qi Acharya Lianxiang dengan cepat menjadi kurus.
Dan telah menua hampir sepuluh tahun.
Kesusahan itu dapat dibayangkan.

Dan lagi:
Aku melihat sepasang orangtua muda, bepergian beberapa hari, menitipkan bayinya yang baru berumur satu setengah tahun pada neneknya.
Nenek ini benar-benar 'memunguti tahi dan kencing'.
Setiap satu jam harus mengganti popok, dalam sehari bayi harus buang air besar tiga sampai empat kali, dengan buang air kecil yang banyak sekali.
Baru saja buang air kecil, sebentar kemudian buang air kecil lagi.
Baru saja buang air besar, sebentar kemudian buang air besar lagi.
Susah payah mencuci, susah payah mengganti popok, harus mencuci pantat bayi pula.
Harus menyuapi makan, minum susu, buah, air.
Bayi harus banyak makan, kalau tidak mau makan harus dibujuk.
Masih harus menemani bayi bermain.
Sebentar menangis, sebentar tertawa, sebentar ngomong sendiri.'
Air kencing di karpet, karpet harus dibersihkan.
Kotoran di karpet, harus diambil, dibersihkan; selalu memperhatikan warna kotoran, kering atau basah, encer, berair. (menyesuaikan makanan).
Nenek ini karena tua tidurnya tidak nyenyak, masih harus menjaga bayi pula, bayi di waktu malam akan mencari orangtuanya, menangis malam, merasa asing ditinggal....
Segala cara bujukan telah dicoba, bayi masih tidak mau tidur, sampai jam lima dini hari baru tidur.
Namun neneknya tidak tidur semalaman, jam lima harus bangun untuk bekerja.
Beginilah terjadi selama beberapa hari, hari-hari 'memunguti tahi dan kencing', menunggu si ibu muda pulang baru selesai semuanya.
Beberapa hari kemudian, banyak kehilangan berat badan dan hampir tumbang.

Apa yang Aku tulis adalah apa yang Aku lihat, saat itu baru terkejut Aku, ternyata beginilah cara bayi bertumbuh menjadi dewasa.
Yang mudah pengasuhannya masih tidak apa-apa, ada yang sulit diasuh, benar-benar membuat orangtua menderita, terutama ibu; Aku baru sadar alangkah besarnya 'kasih ibu', sungguh luarbiasa agungnya.
Ibuku membesarkan enam orang anak.
Acharya Lianxiang membesarkan dua orang anak.
Mereka sungguh luhur, dan semua ibu di dunia ini sungguh luhur, 'memunguti tahi dan kencing' sungguh tidak mudah.
Tidak heran Budha mengkhotbahkan: 'Sutra Besarnya Budi Orangtua Yang Sulit Dibalas'!