Loading...

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, August 14, 2011

Ramalan Besar 大預言


Ramalan Besar
大預言

Oleh Maha Mula Acharya Liansheng
Diterjemahkan oleh Zhiwei Zhu


Saat Aku tinggal di Taiwan tahun 2011, ada seorang Guru Wang meramalkan, pada pukul 10 tanggal 11 bulan 5 tahun 2011 akan terjadi gempa bumi besar 14 skala Richter.
...
Pulau Taiwan akan patah menjadi dua pulau.
Ada tsunami yang sangat besar.
Akan merenggut jutaan jiwa.
Ramalan Guru Wang ini membuat kegemparan besar, pemberitaan media bersaing melaporkan. Guru Wang tidak main-main, ia membangun banyak sekali kontainer di Puli, menimbun bahan makanan cukup untuk satu tahun.
Ramalan Guru Wang, konon didasarkan pada kesimpulan yang ditarik dari 'Jalan Garis Emas' (金線之路) dari Pat-kwa I-Ching.
Gempa bumi besar 14 skala Richter.
Tsunami besar.
Taiwan pecah menjadi dua pulau, memakan korban jutaan orang.
Ini termasuk ramalan besar.
Demi hal ini Aku memohon petunjuk 'Maha Resi Bunda Emas'
Aku bertanya: 'Ramalan kiamat 511 (tanggal 11 bulan 5), apakah benar itu?'
Bunda Emas menjawab: 'Tidak ada masalah demikian.' (Tenanglah)
Aku bertanya: 'Gempa bumi skala 14, mungkinkah itu?'
Bunda Emas menjawab: 'Ada Anda di Taiwan, mana mungkin terjadi.'
Aku bertanya: 'Punyakah Aku kekuatan yang demikian hebat, mampu meredam bencana?'
Bunda Emas menjawab: 'Anda adalah Budha.'

●

Dengan dingin Aku memikirkan tentang 'Ramalan Besar'. Sebenarnya dulu ada satu 'Organisasi Piring Terbang' punya 'Chen Hengming', juga menubuatkan 'kiamat', Tuhan akan mengutus 'piring terbang' datang menjemput mereka.
Pada akhirnya, tidak ada apa-apa.
Hari ini ada ramalan kiamat tgl. 11 bulan 5 tahun 2011, juga akan berakhir tidak ada apa-apa.
Aku ada satu desahan napas: 'Manusia takut akan hari kiamat, tetapi, tidak mau melatih diri, dapat dikatakan sebagai tragedi besar!'
Aku bertanya: 'Dapatkah Aku membuat ramalan besar?'
Bunda Emas menjawab: 'Anda mampu. Tidak ada yang tidak diketahui oleh Mahaguru Lu, kekuatan supernatural dan Dharmabala tiada terhingga, setiap kata selalu tepat adanya.'
Aku bertanya: 'Meramalkan apa?'
Bunda Emas menjawab: 'Gempa besar, banjir besar, kebakaran hutan besar, angin topan besar, semua ini belum bisa dikatakan besar.'
Aku bertanya: 'Apa yang baru termasuk ramalan besar?'
Bunda Emas menjawab: 'Matahari meledak secara alamiah, bumi membeku, ini baru ramalan besar. Sembilan planet keluar dari orbitnya, planet saling menabrak, ini baru ramalan besar. Hilangnya gravitasi bumi, semua makhluk hidup tertelan oleh angkasa, ini baru ramalan besar. Bumi pecah menjadi beberapa keping, umat manusia dan makhluk hidup semuanya musnah, ini baru ramalan besar...'
Aku bertanya: 'Apa ada ramalan yang lebih besar lagi?'
Bunda Emas menjawab: 'Dunia manusia pada dasarnya memang tidak ada, ini ramalan yang paling besar.'
Aku berkata: 'Ini tidak mungkin, jelas-jelas ada dunia manusia!'
Bunda Emas menjawab: 'Laksana mimpi sekilas, laksana embun dan kilat, tiada aku, tiada manusia, tiada makhluk hidup, tiada umur, apa namanya ini?'
Aku berkata: 'Ini baru ramalan besar!' (Sifat asli dharma fenomena)

Thursday, August 11, 2011

The Therapeutic Role of Animals: Dogs Help Victims Testify in Court.

James: Animals are perfect for therapy because their instincts and intuition are heightened to allow them to survive in the wilds of nature. Animals often instinctively know when turbulent weather (or even natural disasters) will strike, before humans do. This intuition enables them to detect subtleties in human behavior.



As I've said before, I often struggle with depression. Well, one day, I was visiting my parents, who care for my sister's dog while she's at work. I began talking about my depression with my parents and at one point, began to cry. Immediately, my sister's little dog, Maya, walked over to me and jumped up on my legs. Then she stretched her little body vertically across my stomach and rested there while trying to lick my face. She instinctively knew that I was hurting and rushed to my side. Her and I have shared a strong bond for a lot of years, and she's a joy and a gift to me.



I had a similar experience with my brother's dog during a bout of depression, and crying over Christmas. I retreated to the basement because all the commotion and stimuli from the party was overwhelming. Yet it depressed me knowing I was missing the family time. Well, not long after I went downstairs, my brother's little dog, Weston, appeared and sat right at my feet. He stayed there the whole time I was lying on the couch. It was like he was watching over me and trying to comfort my emotional turmoil.



Therefore, I'm not at all surprised that these therapy dogs are helping calm victims of crime, so that they can be strong in court. Animals aren't simply here as "scenery" and food. They are our cousins, family, teachers and guides. Animals teach us in so many ways and I think that is partly because they are close to being reborn into the human realm. Or, perhaps they were a human in a past life and therefore are able to respond to human behavior. It could also be the connection we share on the animal level, since all of us who believe in past lives spent time in the animal realm. If we are open to what we experienced and learned in our animal lives then I think our understanding of animal rights will expand too. Maybe it's simply the bond we share of being interconnected as sentient beings. One things is sure, animals are smarter than some humans
believe.



I'll finish with this closing thought; animals give us great opportunities to practice our compassion and abilities to care for those who are the most vulnerable. In the past, animals have been an easy target for human exploitation because of their natural innocence. I have found that a good indicator of a person's compassion is to see how they treat animals. If they are mean to animals, then it's likely they treat humans poorly, as well. In some ways, an animals vulnerability is a test for the many powers of humanity; as the saying goes, "With great ability comes great responsibility." We know that we are all interconnected (even science teaches this concept). So, as go the animals, so go humanity. We can't survive as humanity if we allow animals to be eradicated (or abused) through our excessive greed for land, money and power.



~peace to all beings~

Wednesday, August 10, 2011

Pentingkah Meditasi Itu? / 禪定重不重要?


Pentingkah Meditasi Itu?
禪定重不重要?

Oleh Maha Mula Acharya Liansheng
Diterjemahkan oleh Zhiwei Zhu


Seorang murid bernama Xu memberitahu-Ku bahwa ia pernah membaca koan Zen berikut:
Seorang sadhaka Zen (yang kemudian hari menjadi Guru Zen Mazu) sedang bermeditasi sementara seorang Guru Zen (Guru Zen Nanyue) sedang mengasah ubin disampingnya.
Setelah selesai bermeditasi, sadhaka Zen penasaran apa yang Guru Nanyue lakukan. Jadi ia bertanya, 'Mengapa anda mengasah ubin?'
Guru Nanyue menjawab, 'Aku mengasahnya menjadi cermin.' Sadhaka Zen itu tertawa dan berkata, 'Bagaimana mungkin anda mengasah ubin menjadi cermin?'
Guru Zen itu membalas, 'Lalu apa yang anda lakukan saat bermeditasi?'
Sadhaka Zen itu menjawab, 'Aku bermeditasi untuk mencapai keBudhaan.'
Guru Zen itu meledak dalam tawa. 'Bagaimana mungkin anda mencapai keBudhaan dengan bermeditasi?'
Murid Xu bingung dengan koan ini. Ia bertanya kepada-Ku, 'Apa makna cerita ini? Haruskah kita bermeditasi? Pentingkah meditasi itu?'

●

Jawaban-Ku adalah sebagai berikut:
Apa yang dikatakan oleh Guru Zen pengasah ubin itu sangat benar. Orang tidak dapat mencapai keBudhaan dengan bermeditasi.
Ini berarti, adalah tidak mungkin mencapai keBudhaan hanya dengan bermeditasi. Jika anda bermeditasi setiap hari dan hanya itu yang anda kerjakan, anda tidak akan mencapai keBudhaan. Pembaca harus merenungkan dengan seksama makna dari penjelasan-Ku.

Menjelaskan hal ini lebih jauh:
Yang disebut Samyaksambodhi (Penyadaran Budha yang penuh dan sempurna) adalah persis bukan-Samyaksambodhi. Bukan-Samyaksambodhi adalah persis Samyak-sambodhi.
Pembuktian empiris Kedemikianan Sejati (Tathata, Budhatta) adalah persis bukan-pembuktian. Ini persis, membuktikan secara empiris tiada Budha, tiada hati, tiada pemunculan.
Maka, mencapai keBudhaan melalui meditasi, atau mencapai keBudhaan secara langsung melalui meditasi jelas mustahil. Mencapai samadhi tidak sama dengan mencapai keBudhaan.
(Bagi mereka yang telah mencapai realisasi, mereka akan mengerti penjelasan ini, bagi mereka yang belum, tidak akan benar-benar mengerti)

Intinya, orang tidak dapat mencapai keBudhaan secara langsung melalui meditasi.

●

Lalu, haruskah kita bermeditasi?
Jawaban-Ku adalah kita harus.
Pentingkah meditasi itu?
Jawaban-Ku adalah penting.

'Prajnaparamitha Hrdaya Sutra' adalah persis penyadaran agung Avalokitesvara Bodhisatva setelah memasuki tingkat samadhi yang dalam.

Ini adalah pandangan-Ku:
Aku melatih catur dhyana dalam rupadhatu dan delapan samadhi. Ini persis adalah metode secara bertahap memutuskan kecenderungan kebiasaan seseorang yang merupakan hasil perbuatan masa lampau dari reinkarnasi yang tak terbilang banyaknya.
Meditasi tidak dapat membuat anda mencapai keBudhaan secara langsung. Namun, ia dapat memutuskan benih-benih kecenderungan kebiasaan masa lampau mu (yang kadang ada yang menganggapnya sebagai kecenderungan watak mereka).
Meditasi tidak dapat membuat anda mencapai keBudhaan secara langsung. Namun, ia dapat membuatmu mencapai kebijaksanaan yang pada gilirannya membuatmu dapat mencapai keBudhaan.
Meditasi dapat membuatmu mencapai kebijaksanaan kebenaran relatif dan kebenaran tertinggi, semacam kebenaran transenden. Ini adalah prasyarat untuk mencapai keBudhaan.

Kebijaksanaan yang dapat dicapai seseorang melalui meditasi termasuk:
'Prinsip yang mendasari ilmu perbintangan'
'Prinsip yang mendasari kehidupan biologis'
'Prinsip yang mendasari atom (prana, nadi dan bindu)'
'Prinsip yang mendasari ruang dan waktu'
'Prinsip yang mendasari kekuatan supernatural'
'Prinsip yang mendasari Yogacara, Ajaran Kesadaran-Semata'
dll, dll.

Ketika anda memiliki kebijaksanaan-kebijaksanaan besar ini, maka menjadi jauh lebih mudah bagimu untuk mengenali dan mencapai Kedemikianan Sejati Tathagata (Kebenaran Alam Semesta Yang Demikian Adanya).

Cara Tidur Yang Benar Dalam Membina Roh


Cara Tidur Yang Benar Dalam Membina Roh

Oleh Maha Mula Acharya Liansheng
Dikutip oleh Zhiwei Zhu


Shizun pernah memberitahu umur manusia banyak dihabiskan di tempat tidur. Bila sadhaka tidak waspada dan memperhatikan waktu yang sepertiga hari itu, maka latihannya akan menjadi sia sia. Mengapa? Karena pada waktu tidur, chi dari yin (elemen negatif) berkembang sehingga chi yang telah dilatih pada siang hari dapat dicuri semuanya pada malam hari. Bila hal demikian terjadi, sungguh amat disayangkan.

Sadhaka harus berusaha tidur dalam keadaan dan posisi Samadhi. Cara tidur ini sederhana namun bila dilakukan secara rutin akan memberikan manfaat yang besar.

Cara tidur dalam keadaan dan posisi Samadhi adalah sebagai berikut:

1. Posisi Tidur.
Posisi tidur yang benar dan sempurna adalah menghadap ke sebelah kanan sehingga jantung kita berada di bagian atas. Posisi ini baik untuk kesehatan jasmani. Posisi tidur kearah kanan ini gayanya seperti singa atau udang yang bertujuan untuk mencegah kebocoran "chi". Boleh meletakkan tangan kanan di belakang kepala. Tangan kiri dijulurkan kebawah secara alamiah saja. Posisi tidur telentang tidak baik karena merupakan posisi mati. Sedangkan posisi tidur tengkurap adalah posisi tidur dalam bentuk "yin" sehingga mudah terkena penyakit.

2. Lama tidur.
Sadhaka hendaknya jangan suka tidur. Waktu tidur jangan melebihi 8 jam. Sewaktu tidur dalam keadaan dan posisi samadhi, harus selalu eling dan waspada. Jangan tidur terlalu lelap karena akan membuat anda lengah sehingga Mara dapat mencuri hasil latihan anda. Jangan juga tidur ayam (tidur dengan gelisah) seperti berpenyakit insomnia karena akan menumbuhkan sifat api didalam badan jasmani yang bisa merugikan mata dan otak. Latihan tidur dalam posisi samadhi harus sering dilakukan dan jangan hanya dilakukan sekali sekali saja. Latihan tidur dalam keadaan dan posisi Samadhi ini hendaknya berjalan secara alamiah saja. Ketahuilah bahwa setelah lewat jam 12 malam, semua udara "Yang" menjadi sirna dan "chi dari yin" berkembang dimana nafsu muncul sehingga lebih sukar untuk menjaga "chi" diri sendiri.

3. Teknik.
Ingatlah untuk melakukan puja bakti kepada para Budha dan Bodhisattva sebelum tidur. Setelah naik keatas ranjang, pejamkan mata. Lidah dinaikkan menyentuh langit langit mulut agar saluran chi tersambung. Didalam hati menyebut nama Amitabha Budha. Mulut jangan dibuka karena akan mengganggu saluran pernapasan sehingga "chi" menjadi bocor. Telan air liur. Rasakan diri berada didalam alam semesta yang kosong. Lakukan pernapasan dimana napas ditarik panjang tapi dikeluarkan pendek. Kepala agak sedikit melihat kebawah bagaikan bangau atau kura kura yang sedang istirahat.

4. Sila
Sadhaka harus mentaati Pancasila Budhis dan 10 Perbuatan Kebajikan. Singkirkan nafsu duniawi dan birahi. Relax sewaktu berjalan, diam, duduk, dan berbaring. Jangan mengejar kenikmatan duniawi. Hendaknya terus mengingatkan diri bahwa rupa adalah kosong. Setiap hari melatih diri sehingga memperoleh kejernihan. Menyebut nama Budha dengan sepenuh hati.

Bila hal hal diatas dilakukan dengan baik, maka pasti tidak akan bermimpi sewaktu tidur. Orang yang membina diri dengan benar tidak akan sering bermimpi karena mimpi merupakan refleksi dari keinginan hati kita. Bila mengalami banyak gangguan mimpi, hendaknya mengurangi keinginan di siang hari. Makan bervegetarian. Jangan rakus. Jangan tamak harta dan terikat nafsu birahi. Bila keserakahan disingkirkan, maka secara otomatis, tidak akan ada mimpi. Disiang hari pikiran orang umumnya sering mengembara tak henti-hentinya sehingga pada waktu tidur, ia harus menurunkan "air yg murni", "menjaga chi yang sebenarnya", dan berkonsentrasi menyebut nama Budha. Orang yang membina diri dengan benar, bila tidur dan kemudian sadar, akan merasa sepertinya tidak tidur tetapi semangatnya ternyata pulih seluruhnya. Sang Budha berkata, "Tidur merupakan santapan mata." Kata kata ini sungguh benar.

5. Harus bisa menjaga "chi". Yang dapat terus menjaga chi adalah Budha. Yang belum bisa terus menjaga chi adalah makhluk hidup. Tidur didalam keadaan Samadhi adalah hal penting yang harus dilakukan oleh sadhaka. Bila hal yang sangat penting ini dilalaikan, bagaimana orang dapat mencapai keBudhaan?

Semua kitab Taois dan Budhisme mengajarkan orang agar tekun melatih diri. Tetapi umumnya orang tidak menyadari bahwa begitu malam tiba, "chi dari yin" berkembang. Bila tidak waspada, chi yang diperoleh pada siang hari akan berubah menjadi cairan pada malam hari sehingga latihan yang telah dilakukan menjadi sia sia belaka. Orang awam yang melatih tidur dalam keadaan dan posisi Samadhi akan mendapat umur panjang dan awet muda. Sedangkan, bagi orang yang rohnya telah terbangunkan, latihan ini akan mencegah kebocoran chi dan membuka pintu mistik bagi dirinya. Memboroskan sepertiga umur di tempat tidur dengan percuma adalah sangat disayangkan. Latihlah selama setengah jam setiap hari.

Bagi orang yang rohnya telah terbangunkan, dalam melatih tidur dalam keadaan dan posisi Samadhi, ia dapat menggunakan cara Ta Wen Yang. Sambil berbaring, menahan napas. Badan bisa membungkuk seperti busur. Caranya sama seperti diuraikan sebelumnya. Bila ia dapat memperoleh petunjuk roh suci dari langit, hasilnya akan lebih baik lagi.

Didalam sebuah sutra, ada sebuah cerita sebagai berikut: Seekor kura kura hidup di sebuah rawa yang kering dan tidak bisa mencari makanan ke tempat yang banyak makanan. Kebetulan datang seekor burung bangau. Maka, si kura kura meminta tolong agar si bangau membawa si kura kura terbang. Setelah sang bangau terbang beberapa lama dan melewati sebuah tempat, si kura kura bertanya, "Dimana kita berada? Mengapa tidak berhenti?" Sang bangau tidak sempat menjawab karena si kura kura sudah terjatuh ke tanah karena membuka mulutnya melepaskan cengkraman pada sang bangau.

Demikianlah kura kura itu melambangkan manusia bodoh yang tidak menjaga mulut dan lidahnya. Cerita tentang si kura kura ini saya kutip sebagai perumpamaan bagi mereka yang melatih diri. Pada waktu berdiam diri, jangan berbicara. Begitu membuka mulut, maka chi akan buyar. Karena itu, sewaktu tidur dalam keadaan dan posisi samadhi, mulut harus ditutup rapat. Nafas yang dikeluarkan pendek saja, sedangkan nafas yang ditarik dilakukan panjang. Mulut dan lidah harus dijaga baik baik dimana lidah diangkat menyentuh langit langit.

Bila roh ingin dibuat tenang, harus bisa terpusat. Bila ingin terpusat, harus menyatukan chi dan roh. Roh mengikuti chi, dan chi mengikuti roh. Akhirnya, chi akan menjadi shen (spirit). Shen (spirit) itulah yang menjadi Budha dan Bodhisattva. Intisari ilmu tentang pembinaan diri terletak disini.

Hari ini, didalam tulisan ini, Shizun telah mengungkapkan cara cara yang sangat fundamental, yang sangat mendasar. Penjelasan tentang teknik tidur dalam keadaan dan posisi Samadhi sungguh sulit untuk ditemukan selama ini. Guru San San Chiu Hou pernah berkata, "Orang yang bijaksana mengerti setelah mewujudkan mimpinya. Sesungguhnya, waktu manusia sangatlah berharga. Orang awam patut dikasihani karena mereka sering bermimpi tanpa mengerti maknanya."

Bukti Adhistana Luar


Bukti Adhistana Luar

Oleh Maha Mula Acharya Liansheng
Diterjemahkan oleh Zhiwei Zhu


Pernah Aku mendengar beberapa Guru Esoterik mengkritik Guru Eksoterik: ' Bisakah anda menjadi Budha hanya dengan melafalkan Nama Budha dan bernyanyi? Jalan masih panjang!' Beberapa Guru Eksoterik mengkritik Guru Esoterik: 'Anda mempraktekkan semua jenis cara aneh dan ganjil. Anda mengatakan anda memancarkan cahaya. Benarkah itu?' Karena Ajaran Eksoterik dan Esoterik mengajarkan metode yang berbeda, tak terelakkan adanya salah faham diantara kedua madzhab itu, dan penolakan serta kritik tak terhindarkan dari guru-guru yang tidak mengerti makna hakiki dari masing-masing Ajaran.

Aku akan menjelaskan perbedaan antara kedua madzhab, dalam hal kekuatan dalam dan kekuatan luar.

Bagi sadhana Esoterik, anda menjadi Budha dalam hidup kali ini juga, kebanyakan dengan kekuatan-dalam ditambah sedikit Kekuatan Luar.
Bagi sadhana Eksoterik, anda memperoleh kelahiran di Tanah Suci Budha kebanyakan dengan Kekuatan Luar, ditambah sedikit kekuatan-dalam.

Terlebih lagi, Budha Dharma selalu menganggap Ajaran Tao sebagai menyimpang (menyembah dewa dan hantu), yang bukan perbuatan yang benar. Sadhaka Tao juga ada perbedaan tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah Dewa Emas, dibawahnya adalah Dewa Langit, yang dibawahnya lagi Dewa Bumi, dan dibawahnya lagi adalah Dewa Hantu. Dewa Emas setara dengan Empat Makhluk Suci, juga diluar lingkaran alam tumimbal lahir. Budha dan Tao mempunyai alam yang sebanding. Dewa Langit dalam Tao adalah berbagai Dewa di Sorga dalam Budha, Dewa Bumi dalam Tao adalah para Dewa yang tinggal di dunia ini, sementara Dewa Hantu (鬼仙) adalah para dewa di semua alam.

Di dalam jalan manapun sadhana anda, selama pikiran benar dominan dan menguasai dan pikiran terfokus dapat memancarkan cahaya, meditasi anda akan mendapatkan berkat Kekuatan Luar, sehingga mencapai Pencerahan. Latihan sesuai dengan Ajaran pasti akan menghasilkan respon. Ini yang Aku garisbawahi untuk memberitahukan pada para pembaca. Sebabnya adalah semua Budha adalah baik hati dan welas asih; jika Mereka tidak memberkati dan merangkul mereka yang berlatih dengan tulus, bagaimana Mereka bisa mengatakan mempunyai kebaikan dan welas asih paling agung?

Guru Esoterik berkata, 'untuk menjadi Budha dalam hidup kali ini juga' adalah langsung, sedangkan 'terlahir dengan karma di Tanah Suci' adalah ajaran tidak langsung. Namun, dalam mempraktekkan ajaran Esoterik, kita juga memerlukan Kekuatan Luar untuk adhistana. Aku akan menuliskan ini dalam bab berikutnya. Yang mendiskusikan adhistana Kekuatan Luar di Tanah Suci.

Madzhab Tanah Suci dibawa ke China oleh biksu India Budhacinga (232-348) di jaman Dinasti Jin Timur dan Dinasti Utara dan Selatan. Pertama-tama Ia ajarkan Ajaran-Nya kepada Tao An, kemudian Master Hui Yuan (334-416) mendirikan madzhab itu. Ketika Master Hui Yuan sedang membaca Sutra di Loteng Sutra, Ia menemukan Sutra Amitabha versi pendek. (Yang asli sangat panjang: Sutra yang dilindungi semua Budha yang memuji pahala takterbayangkan dari Tanah Suci.) Sutra itu bercerita tentang kelahiran di Tanah Suci dengan melafalkan Nama Budha. Master Hui Yuan percaya inilah cara paling mudah, dan Ia mendirikan Madzhab Tanah Suci untuk melatih itu.

Amitabha Sutra berkata: 'Sariputra, jikalau seorang pria atau wanita berbudi mendengar tentang Amitabha, dan melafalkan Nama-Nya selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari atau tujuh hari, sepenuh hati dan pikiran, ketika orang itu meninggal, Amitabha dan para Budha lainnya akan muncul di hadapannya; jika pikiran orang itu tidak bingung, ia akan dapat terlahir di Tanah Suci Sukhavati Amitabha.

Paragraf ini dalam Amitabha Sutra membuat para sadhaka percaya bahwa Jalan Tanah Suci sangatlah mudah, dan karena itu, Madzhab Tanah Suci berkembang. Sebab kedua adalah Jalan Tanah Suci dapat dilatih oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, mengandalkan lebih kepada pemberkatan Kekuatan Luar daripada kekuatan sendiri. Hal ini membuat Jalan ini sangat mudah digunakan.

Namun, Aku percaya adalah juga sangat sulit melatih Ajaran Tanah Suci. Kesulitan terletak pada 'pikiran tidak bingung' dan 'sepenuh hati dan pikiran'. Saat kita meninggal, enam kerabat yang ditinggal pasti akan datang menjenguk kita, setan yang dihasilkan oleh karma kita juga akan datang menjemput kita, dan yang terutama adalah anggota keluarga kita akan menangis dan meratap. Dengan keadaan seperti itu, sedikit saja orang yang dapat menjaga pikirannya tidak bingung dan mengatasi semua gangguan pikiran. Meskipun kita katakan Pintu Dharma ini mudah digunakan, adalah tidak mudah terlahir di Tanah Suci Budha tanpa kekuatan konsentrasi yang besar.

Kekuatan apa yang kita perlukan untuk tidak terganggu pikiran dan tidak bingung? Tak lain dan tak bukan adalah kekuatan samadhi. Itulah sebabnya Aku berkata jika anda tidak melatih kekuatan samadhi, pikiranmu akan bingung dan terganggu, membuatnya sulit pergi ke Tanah Suci Barat.

Sebenarnya, di Tanah Suci Barat, terdapat 36 triliun 119.500 Amitabha dengan Nama yang sama. Di Tanah Suci Budha, ada empat Tanah dan sembilan tingkat, sesuai dengan sembilan tingkat aspirasi Tanah Suci Amitabha. Yang tertinggi adalah Tanah Luar, Cahaya Keheningan, tinggal Mereka yang mencapai Pencerahan Sempurna (tingkat 13), dan Pencerahan Menakjubkan (tingkat 12) tinggal --itulah Tanah para Budha. Tingkat tertinggi berikutnya adalah 'Tanah Tiada Halangan sebagai pembalasan sejati bagi pelatihan meditasi', dimana Mereka dengan Pencerahan Persamaan tinggal (tingkat 8, 9, 10, 11). Berikutnya adalah 'Tanah yang dibangun sementara bagi Mereka yang telah menghancurkan kejahatan nafsu besar, sehingga mencapai kebebasan dari khayalan yang harus diatasi.' Disini terdapat Bodhisatva dan Arhat dari tingkat 1 sampai 7, yang dikelompokkan sebagai kelahiran tertinggi pada tingkat tertinggi. Yang terendah adalah Tanah dimana orang awam dan para Suci tinggal bersama. Dari kelahiran tengah dari tingkat tertinggi, turun ke kelahiran terendah dari tingkat terendah adalah Alam Dharma Kara yang tercipta dari Maha Prasetya Welas Asih Amitabha, untuk tubuh penjelmaan. Mereka semua yang tinggal di sini masih ada karma. Ini bukan tingkat tinggi. Tubuh penjelmaan butuh latihan, meditasi dan melafalkan Nama Budha, perlu mengunjungi berbagai Tanah Suci Budha, dan perlu membuat persembahan bagi para Budha sepuluh penjuru. Sederhananya, Tanah untuk orang awam dan Suci adalah 'kelas persiapan' untuk keBudhaan dan keBodhisatvaan.

Aku merasa jika sadhaka Tanah Suci juga belajar meditasi, kemudian mereka juga belajar visualisasi, sebagai tambahan pelafalan Nama Amitabha, memikirkan Amitabha dan melihat pratima Amitabha. Kekuatan sendiri dari meditasi dan Kekuatan Penjemputan Amitabha akan melebur membawa sadhaka ke Tanah Suci Barat tanpa sangsi lagi. Meditasi cahaya khususnya sangat efektif, dan jika sadhaka Tanah Suci juga melatih meditasi, mereka pasti mencapai Tanah Suci Barat. Inilah: 'Meditasi tanpa Ajaran Tanah Suci dari sepuluh kasus sembilan akan tersesat. Meditasi dengan Ajaran Tanah Suci akan seperti macan tumbuh tanduk.' Ini menjelaskan keduanya sangat penting.

Disini Aku jelaskan bagaimana melakukan visualisasi:

Bayangkan dirimu sebagai Amitabha, berdiri diatas tahta teratai dengan pakaian merah, memegang teratai emas di tangan kiri, tangan kanan dijulurkan ke bawah dengan jari-jari lurus untuk membentuk Mudra Welas Asih. Disisi kanan berdiri Avalokitesvara Bodhisatva, berwarna putih dengan tangan kiri terjulur ke bawah dan tangan kanan memegang teratai putih yang mekar. Disebelah kiri berdiri Mahastamaprapta Bodhisatva, berwarna merah muda, dengan tangan kanan terjulur ke bawah, dengan tangan kiri memegang sebuah lonceng. Bayangkan lebih jauh dibelakang Amitabha diri sendiri terdapat awan-awan manggala, ada sesosok Budha duduk di tahta teratai yang merupakan Bodhicitta dari Jatidiri anda. Tangkai bunga teratai turun dari cakra mahkota anda sampai ke cakra pusar anda.

Japalah empat kali mantra catur sarana: 'Namo Kulupei, Namo Putaye, Namo Tamoye, Namo Shengciaye.'
Japa syair pengembangan Bodhicitta, sesuai dengan sumpah anda.

Sekarang japa: 'Hum' sembilan kali, dan ucapkan sekali dengan suara keras, untuk menunjukkan ubun-ubun kepala terpukul dan terbuka dan memancarkan cahaya lima warna dari Budha. Didalam cahaya muncul inkarnasi dari Trisuci Tanah Suci (Amitabha Budha, Avalokitesvara Bodhisatva, Mahastamaprapta Bodhisatva), dan awan-awan manggala mulai bercahaya. Tangkai teratai Bodhicitta Jatidiri juga memancarkan cahaya putih yang sangat kuat, bergerak ke cakra pusar melalui cakra mahkota.
Pada tahap ini, satu saat cahaya Budha lima warna naik, saat berikutnya cahaya putih turun ke cakra pusar, sampai menjadi semacam peredaran. Ini akan terjadi tujuh kali.

Setelah lengkap, japalah mantra konsentrasi: 'Om, Y-ma, loh-nee, ze-din-deeh-ye, sa-he'. Japa mantra ini 108 atau 1000 kali.

Sekarang japa syair Pelimpahan Jasa: 'Pada saat aku akan meninggal, semoga semua halangan terhapuskan. Semoga aku mencapai dan melihat Budha, dan melampaui hidup dan mati, dan semoga aku seperti Budha, menyelamatkan semua makhluk hidup dari penderitaan.'

Latihan selesai.

Penulis tahu, akan tetapi hal yang paling penting dalam latihan adalah melakukannya setiap hari tanpa jeda. Jangan lakukan setiap sepuluh hari sekali! Lakukan latihanmu sebagai PR resmi harianmu. Apa yang penting khususnya adalah pikiranmu yang terpusat; jangan ikuti kecenderungan kebiasaanmu. Jika pikiranmu dijauhkan dari urusan duniawi, anda akan secara alamiah membangun afinitas dengan para Budha dan makhluk sorgawi. Kombinasi Ajaran Tanah Suci dengan meditasi adalah metode yang sangat luarbiasa. Ketekunan harian cepat atau lambat akan membawa tanggapan dan berkah dari para Budha dan makhluk sorgawi.

Jika para Guru Esoterik mengkritik Guru Eksoterik, yang pertama yang salah. Jika Guru Eksoterik mengkritik Guru Esoterik, yang pertama yang salah. Jika orang Budha mengkritik orang Tao, orang Budha yang salah. Alasan semua itu adalah meskipun metode bhavana berbeda-beda, perbedaan hanya terletak dalam hal kadar kekuatan sendiri dan Kekuatan Luar. Sadhakan Esoterik juga menggunakan Kekuatan Luar untuk adhistana, dan tiada alasan mentertawakan sadhaka Eksoterik. Tidak pula untuk sebaliknya.