Loading...

Saturday, July 23, 2011

Tathagata Usnisa Vijaya Dharani

Oleh Maha Mula Acharya Liansheng
Dikutip oleh Zhiwei Zhu


Seorang pria bernama Zhao Hui datang menanyakan nasib pada Saya.
Ketika ia memasuki rumah-Ku, Saya merasakan adanya hawa gelap mengambang diatas kepalanya, dan ada dua makhluk halus mengikuti dirinya pula. Tetapi kedua makhluk halus ini ditahan oleh Gupala (Dewa Pintu) di luar pintu. Mereka menimbulkan suara gaduh di luar.

Zhao Hui duduk di hadapan Saya. Saya menatap wajahnya, tampak hawa kelabu menutupi wajahnya. Saya merasa prihatin melihat orang ini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kulit, otot, tulang, bahkan tiga masa kehidupan, tidak memperlihatkan satu kebajikanpun. Bagaimana sebaiknya?
Zhao Hui bertanya, 'Bagaimana nasib saya?'
Saya menjawab, 'Terus terang, mengenai nasib kehidupan anda, Saya tidak berani mengatakannya.'
'Tidak masalah, mohon katakan apa adanya.'
Saya berkata, 'Orangtua meninggal ketika anda masih kecil, anda dibesarkan oleh sanak saudara.'
'Betul. Sial, tepat sekali!'
'Kehidupan masa kecil anda susah, putus sekolah, kerja tidak menentu, berkelahi, dan pernah direhabilitasi.'
'Betul.'
'Apakah anda masih berbaur dengan gangster?' Saya bertanya.
Zhao Hui menganggukkan kepala.

Pembicaraan Saya sampai disini, Saya tidak bermaksud melanjutkannya lagi.Sebab Saya tahu, orang seperti Zhao Hui dapat digambarkan dalam bahasa modern: 'sampah masyarakat'. Karena ia tidak pernah melakukan hal yang positif dalam kehidupannya, seluruh hidupnya hanya berkeluyuran, bejat, tidak senonoh, mabuk-mabukan, berzinah, berjudi, bahkan pemakai narkoba, mencuri, merampok dan menipu.

Zhao Hui bertanya pada Saya, 'Kapan saya bisa jaya?'
Saya tertawa getir di dalam hati, 'Harus menunggu!'
'Sampai kapan?'
'Saya tidak tahu.'
Zhao Hui agak marah, 'Katanya Anda peramal ulung, tahu segala-galanya, sekarang giliran meramal saya, mana boleh mengatakan tidak tahu. Awas! Sekarang saya bertanya, sudah kenyang makan?'
'Maaf, sejujurnya adalah, nasib anda cukup sulit untuk diramalkan.'
'Sejelek apapun juga ada nasib. Cepat katakan, jangan membuat saya marah, kalau tidak saya akan membuat Anda lenyap dari muka bumi!'
Ini merupakan ancaman! Saya berkata, 'Zhao Hui, jika Saya menolong anda, apakah anda mau mendengar perkataan Saya?'
'Dengar, meskipun gelandangan, saya masih menghargai budi.'

Saya berkata, 'Saya ingin membantu anda mengubah nasib. Pada dasarnya, nasib anda sangat kelabu, seumur hidup dikuatirkan tidak bakal meraih keberhasilan. Hanya dengan mengubah nasiblah anda bisa menjadi jaya. Jika anda patuh pada perkataan Saya, Saya akan bantu anda mengubahnya!'
'Jangan bertele-tele! Cepat katakan!'
Saya berkata, 'Ada dua makhluk halus menyertai anda, jika mereka tidak pergi, anda tidak akan menempuh hari baik. Dari mana asal usul mereka?'
'Dua makhluk halus?' Zhao Hui kebingungan.
'Anda pernah membunuh orang?' Saya bertanya.
'Malah tidak, pernah mengancam akan membunuh orang, tapi kenyataannya hanya melukai, tidak sungguh-sungguh membunuh.'
'Coba anda ingat-ingat, jika tidak membunuh orang, mereka datang dari mana? Anda pernah menyakiti makhluk halus sebelumnya?'
Zhao Hui menggaruk kepala, lalu berseru, 'Sial! Begini, saya pernah merampok isi kuburan, dua kali. Apakah merampok kuburan akan menyakiti makhluk halus?'
Saya menjawab, 'Tentu saja.'
'Sial! Saya hanya mencuri barang-barang yang dikubur, toh tidak melukainya. Untuk apa mereka mengikuti saya?'
'Merampok kuburan itu melanggar hukum. Lagi pula menggali kuburan, mana mungkin orang mati itu tidak marah? Kedua makhluk halus ini mengikuti anda, anda setiap saat pun bisa celaka!'
'Lalu bagaimana?' tanya Zhao Hui.

Pada saat itu saya berpikir, saya mesti mengajarinya sebuah mantra yang dapat mengubah jalan hidupnya. Tapi bagaimana menyelesaikan karma yang ditimbulkannya?

Berdana --memperoleh berkah.
Kikir --menderita kemiskinan.
Satwamocana --menjadi panjang umur.
Membunuh -- memperpendek umur.

Saya tahu bahwa Budha Dharma tiada tara dan menakjubkan. Mantra Tantrayana bagaikan ratna manikam, mampu mengabulkan segala doa bajik untuk mencapai keberhasilan.

Tapi, apakah Zhao Hui layak mendapatkan ratna manikam? Saya mengamati tiga masa kehidupan Zhao Hui. Ia pernah menjadi pejagal babi pada suatu masa kehidupan. Pernah pula berbisnis pelacuran pada suatu masa kehidupan lain. Di kehidupan sekarang ini, selain mencuri, ya merampok. Sungguh boleh dikatakan sebagai tidak ada akar kebajikan sama sekali.

Saya bertanya pada Zhao Hui, 'Pernahkah anda berbuat kebajikan?'
'Kebajikan?' Zhao Hui menggeleng-gelengkan kepala.
'Tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, tidak omong kosong, tidak bergosip, tidak menghina, tidak serakah, tidak marah, tidak bersikap bodoh. Ini adalah Dasa Kusala Karma.'
'Hah! Tidak ada kejahatan yang tidak saya lakukan!'
'Coba dipikirkan lagi, adakah satu kebajikan yang pernah anda lakukan?' Saya tidak mungkin begitu saja mengajarkan ajaran Tantrayana yang berharga kepada seorang bajingan yang bejat.

Zhao Hui cukup lama berpikir, lalu berkata, 'Suatu kali, ketika mencuri barang-barang milik sebuah vihara. Sasaran saya adalah kotak dana yang berisi lembaran uang tunai dalam jumlah yang banyak. Saya telah menggasak kotak dana itu seutuhnya, percuma mereka menggemboknya. Ketika itu saya sekalian mengambil lukisan di dinding. Pulang ke rumah dan saya perhatikan, ternyata gambar rupang Sakyamuni Budha. Begitu tahu itu cuma gambar rupang Budha, ingin rasanya membuang ke dalam tong sampah. Sial! Berapa sih nilai sebuah gambar rupang, buang sajalah. Tapi saya berpikir pula, gambar rupang Budha ini lumayan indah, sehingga saya menggelarnya di dinding. Saya sempat menatapi gambar rupang Budha sambil beranjali. Apakah ini termasuk perbuatan baik?'
'Oh?' saya membisu.
Gambar rupang Budha hasil curian digelar di tembok termasuk perbuatan baik? Saya sendiri menjadi bingung.
Zhao Hui berkata, 'Saya pernah berbuat kebajikan besar. He..he!'
'Kebajikan besar apa?' Saya keheranan.
'Saya menemui Anda, ini 'kan kebajikan besar!'
'Oh!' Saya kembali membisu.

Saya berkata pada Zhao Hui, 'Setiap makhluk hidup pada dasarnya berhati mulia, murni bagaikan bulan purnama. Sekalipun makhluk preta di tiga alam rendah, asalkan menjapa mantra tiga kali, semuanya akan memperoleh Sadhana Tantra lalu terbebas dari semua ikatan karma buruk dan mendapatkan pahala. Jika Saya mengajari anda mantra, jalan hidup anda pasti berubah dan akan mencapai hasil gemilang!'
Zhao Hui sangat girang, 'Cepat, cepat!'

Saya mengajari Tathagata Usnisa Vijaya Dharani pada Zhao Hui:
'Om A Mi Li Da. De Ka. Fa Di. Suo Ha. (Mantra Hati)

Saya mengeluarkan kitab Sutra Tathagata Usnisa Vijaya Dharani dan memperlihatkannya pada Zhao Hui. Sutra tersebut tertulis:

Sang Budha berkata pada Dewa Indra, dharani ini disebut Tathagata Usnisa Vijaya Dharani Pembasmi Segenap Alam Samsara, mampu menghapus semua karma buruk dan melenyapkan semua penderitaan dari jalan kejahatan. Dharani ini diumumkan bersama oleh para Budha sebanyak delapan puluh delapan koti butir Sungai Gangga, semua Budha menerima dengan gembira dan dikukuhkan dengan Lencana Prajna Vairocana Tathagata. Jika seseorang dalam sesaat mendengarkan dharani ini, ia tidak akan menerima buah karma buruknya serta penderitaan yang bertumpuk selama ribuan kalpa yang lalu yang mengakibatkan dirinya terjerumus dalam sirkulasi hidup dan mati di alam neraka, alam preta, alam hewan..., tak akan menerima hukuman berat dan segera terlahir di Budhaloka sebagai calon Bodhisatva dan menemui para Budha dan Bodhisatva.

Saya mengajari Zhao Hui, 'Ambillah segenggam tanah, japalah dharani ini sebanyak 21 kali. Taburkanlah pada orang yang telah meninggal, maka arwahnya akan naik ke alam Dewa.'
Begitu Zhao Hui mendengarkan hal ini, ia segera melakukannya.
Saya mengajak Zhao Hui keluar rumah, Zhao Hui menaburkan dua genggam tanah ke arah yang Saya tunjuk. Terdengar suara gemuruh! Kedua makhluk halus tadi segera lenyap dan naik ke alam Dewa! Begitu dua makhluk halus itu lenyap, hawa gelap di tubuh Zhao Hui perlahan-lahan menghilang.

Tathagata Usnisa Vijaya Dharani menyatakan, 'Orang yang menjadi dharani ini, semua karmanya dari ratusan kalpa akan lenyap, akan terbebas dari penyakit parah dan memperoleh kedamaian serta panjang umur, dapat berubah jalan hidupnnya. Sewaktu meninggal, akan terlahir di berbagai Budhaloka.'

Saya mengajari Zhao Hui Mudra Vijaya, juga mengajarkan cara bervisualisasi saat menjapa mantra, yaitu bervisualisasi hati sendiri berubah menjadi cakra candra, diatas cakra candra terdapat aksara sansekerta Kang berwarna putih memancarkan cahaya menerangi semua makhluk hidup. Orang yang terkena pancaran cahaya ini, karmanya akan lenyap, lahir batin terasa teduh dan akan memperoleh maha prajna.

***

Zhao Hui memperoleh ilham
Sejak ia mendapatkan Tathagata Usnisa Vijaya Dharani, ia amat tekun menjapanya, 'Ambillah segenggam tanah, japalah dharani ini sebanyak 21 kali. Taburkanlah pada orang yang telah meninggal, maka arwahnya akan naik ke alam Dewa!' Hal ini sungguh mengagumkan. Zhao Hui tidak memberitahu hal ini pada siapapun. Ia sepenuh hati menjapa mantra ini tanpa henti. Setiap malam ia mengunjungi tanah pekuburan yang ditemuinya, baik yang pernah ia kenal maupun tidak, semuanya ditaburi. Demikianlah upaya ini ditekuni Zhao Hui, ia merasa hal ini sangat berarti.
Usai menaburkan tanah di satu pekuburan, ia meneruskan lagi ke pekuburan lain. Jejak kaki Zhao Hui membekas di banyak tanah pekuburan.

Suatu ketika Saya kembali melihat Zhao Hui, sungguh mengejutkan, di sekeliling tubuhnya penuh dikerumuni makhluk halus. Tapi mereka bukanlah arwah penagih hutang, melainkan makhluk halus yang bajik. Zhao Hui disanjung oleh segerombolan makhluk halus.
Saya berkata, 'Anda telah berteman dengan makhluk halus.'
Zhao Hui menjawab, 'Hanya kebajikan inilah yang dapat saya lakukan!'
Air muka Zhao Hui tampak berubah, hawa gelap telah menghilang, wajahnya penuh dengan cahaya putih dan cahaya merah. Ia terlihat puas dan bangga.
Sesungguhnya, jalan hidup Zhao Hui telah berubah menjadi baik.
Dulu kesehatannya kurang baik, setelah menjapa mantra, seakan lebih bertenaga, daya tahan tubuhnya semakin kuat (sebenarnya ini dibantu oleh makhluk halus yang bajik). Penyakit yang diderita sebelumnya membaik sendiri tanpa diobati.

Tadinya Zhao Hui memiliki wilayah kekuasaan dan menarik uang pungli dari pedagang kecil tempat ia bermukim. Usaha para pedagang di sana lumayan, sehingga jumlah uang pungli juga tidak sedikit. Zhao Hui tidak serakah, malah mengembalikan uang pungli pada para pedagang. Oleh karena itu mereka semakin menghormatinya.
Orangtua angkatnya meninggal dunia dan mewariskan sejumlah uang untuknya. Dengan uang tersebut, ia memulai usaha restoran. Tak diduga, usaha restorannya bertumbuh jaya, ia investasi lagi yang lain, ternyata setiap investasinya sukses. Kini ia telah menjadi orang kaya.
Ia menikah dan memperoleh seorang putera. Ia menjadi ketua RT, ketua RW, kepala desa. Sekarang ia menjadi anggota DPRD tingkat II (banyak orang respek pada Zhao Hui sebenarnya adalah banyak makhluk halus menaruh respek pada Zhao Hui yang menjadi anggota DPRD tingkat II).

***

Zhao Hui memberitahu Saya satu hal, 'Vijaya Dharani juga dapat melindungi diri!'
Zhao Hui mengatakan, suatu ketika seorang kandidat menyewa pembunuh hendak melenyapkan nyawanya. Jarak si pembunuh sangat dekat dan menodongkan pistol ke dadanya. Zhao Hui kewalahan, segera ia menjapa mantra, 'Om. Amilida. Deka. Fadi. Suoha.'
Si pembunuh menarik pelatuk pistol, Zhao Hui mengira dirinya pasti mati. Tak disangkat, 'Klek!' peluru pistol macet. Si pembunuh berseru, 'Sial, ada setan!'
Si pembunuh kabur tunggang langgang.
Zhao Hui berkata, 'Ini hanyalah salah satu kasus selamat dari mara bahaya, masih banyak kejadian mukjizat semacam ini, selalu mampu mengatasi kondisi pada saat-saat kritis, sungguh sulit dipercaya!'
Saya melihat semakin banyak makhluk halus bajik yang mengerumuni dirinya, semuanya datang membantu, kemungkinan besar ia dari anggota DPRD tingkat II segera menjadi anggota DPRD tingkat I dan akhirnya menjadi anggota DPR.

Tertulis sebuah gatha:
Memberkati tanah dengan mantra,
Menaburi arwah berupa sadhana,
Saat jalan hidup telah buntu,
Ternyata muncul kehidupan baru.

***
(Catatan Zhiwei: contoh nyata 'Begitu meletakkan pisau jagal, seketika itu juga menjadi Budha')

0 Comment:

Post a Comment